Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Jumat, 03 Februari 2012

FICTION TIPS!!


Pada kesempatan yang sangat langka ini, saya ingin berbagi tips mengenai cara menghilangkan kebiasaan nulis yang moody. Alias nulis tergantung mood. tentu kalian semua, IWU Addict, boleh tidak setuju, juga boleh menambahkan tips dari saya ini.

1. Rajinlah membaca


Yap. Membaca adalah jendela dunia, jendela pengetahuan. Dengan banyak membaca, ibarat kita sedia payung sebelum hujan. jadi, sebelum kita kehabisan ide, kita justu sudah ada pasokan ide sebelumnya. orang yang membaca, ibarat orang yang pernah mengunjungi banyak tempat. Ketika ada orang ngajak ngbrol, orang ini akan lebih "cerewet" karena pengalaman perjalanannya banyak.


2. Pentingnya komitmen menjadi penulis


Beda loh, kalau orang belum komitmen berprofesi sebagai penulis dengan nulis yang sekadar "iseng" pengin nulis, beda lagi sama penulis yang masih bermental kerupuk. dalam bahasanya sensei, ibarat kerupuk nyemplung kuah soto, baru kena halangan dikit aja udah mlempem. beuuuh, kacangan ini mah penulis kayak gini. so, penting sekali memantapkan hati, untuk berkomitmen menekuni dunia penulis. Dengan begini, mindset kita akan terpolakan, bahwa menulis adalah sebuah kebutuhan bukan menjadi beban pekerjaan. So, kita menulis lebih dengan hati, dengan suka cita karena kita sudah menasbihkan hidup kita untuk menulis.


3. Kerjakan banyak project sekaligus



Begini. saat satu tulisan buntu, writerblock, kita bisa beralih ke tulisan lain yang secara tematik sudah berbda. paling tidak, emosi kita akan lain ketika mengerjakan tulisan yang genre atau temanya berbeda. Ini sala satu strategi saya menulis. dan setelah saya jalankan, enak kok :) so, gak ada waktu bengong, malas, atau moody sifatnya dalam menulis.


4. Banyak baca biografi penulis sukses

Dengan membaca karya orang lain memang memicu diri kita untuk terus menulis, namun yang tidak kalah penting juga adalah membaca kisah sukses seorang penulis. wah, banyangin coba, siapa yang nggak ngiler sama JK Rowling setelah tahu kekayaannya dari menulis Hari Potter seperti apa. Bukan hanya kaya, konon, setiap hari JK Rowling menerima surat dari para penggemarnya dari berbagai belahan dunia (surat: semua media termasuk email dan jasa pos)


5. Menulis adalah habbit!


Masih terkait dengan point nomor dua, menulis dan komitmen, di sini saya menekankan agar menjadikan kegiatan menulis sebagai sebuah kebiasaan. banyak membaca, tumpahkan dalam kegiatan menulis. tentu, akan seimbang dan habbit atau kebiasaan ini akan menjadi sebuah pola dalam hidup kita. akhirnyalah (ikutan sensei, pakai akhirnyalah) kita tidak bisa hidup tanpa menulis, sesedih apapun suasana hati kita dan seceria apapun kita.


*diilhami dari ilmu yang diberikan kepada saya dari seorang sensei Suyatna Pamungkas, karena selama ini sebenarnya saya kuliah privat sama beliau, ditulis oleh saya, Flo.


Baca Terusannya »»  

Senin, 23 Januari 2012

IPA dan IPS dalam Tulisan Fiksi


Oleh Suyatna Pamungkas

“Penulis yang baik adalah yang tahu ke mana arah jatuhnya benda yang dilemparkan vertikal ke atas, dan bisa menjelaskan kenapa itu bisa terjadi.” 

Dalam kuliahnya, Prof. Beny Hoed menyampaikan penggolongan ilmu-ilmu menjadi dua, yakni: IPA (Ilmu Pengetahuan Alam): menemukan hukum-hukum alam sbg sumber dari fenomena alam à erklären (menerangkan) àhukum-hukumnya tetap. IPB (Ilmu Pengetahuan Budaya): manusia sebagai “objek” dan “subjek” sekaligus à verstehen (memahami) àobjek memandang dunia. Di dalam IPB ini terkandung ilmu humaniora dan IPS. Ada dua kubu besar di sini, yakni yang bersifat idealistik dan yang bersifat materialistik. Ilmu-ilmu seperti filsafat, psikologi, antrolopogi, semiotika lebih bersifat idealistik, lebih pada usaha memahami (verstehen). Sementara ilmu-ilmu alamiah lebih bersifat materialistik, yakni menemukan hukum-hukum alam dari fenomena alam,  menerangkan (erklären) hukum-hukum alam yang bersifat tetap ini.

            Hingga tahun 2012 ini, di bangku SMA, agaknya masih milik “anak eksak”. Jurusan IPA masih lebih favorit kebanding jurusan IPS. Semua berlomba-lomba mendapat kursi di bangku IPA, dan malangnya, kelas IPS seolah menjadi “buangan” anak-anak IPA yang tidak mampu memenuhi prasyarat masuk IPA. Dalam sebuah survey kecil, saya sengaja memintakan pendapat anak SMA tentang pilihannya masuk sebuah jurusan pengkhususan di sekolahnya, dan didapatlah jawaban berikut ini:

            “Saya itu tidak pintar IPA mas, tapi jujur saya gengsi ketika harus nyemplung di kelas IPS, apalagi bahasa. Walau saya keteteran mengikuti materi di kelas IPA ini, namun saya senang karena saya anak IPA, bukan anak IPS apalagi bahasa.” (tutur Mae, seorang tiga SMA yang tak mau disebut nama asli dan asal sekolahnya)
           
            “Kalau saya sih ngikut kata mamah. Memang sudah lama sih Mas, mamah nyiapin saya supaya masuk ke IPA. Sehingga sudah sejak jauh hari lebih serius ke pelajaran IPA daripada ke pelajaran IPS.” (Giska, teman satu kelas Mae, mengungkapkan pendapatnya)
           
            “Kalau saya sih memang sejak kecil benci sama Matematika, Mas. Saya tumpul di hitung-menghitung, saya lebih suka menghafal atau membaca tulisan panjang. Itulah mengapa saya masuk IPS.” (di sisi lain, Hilda menambahkan)
            Mae dan Giska sama-sama di lingkungan akademisi yang baik. Ayah Mae seorang Dosen Biologi di PTN di kota Jogja, dan ibunya seorang guru di sebuah Madrasah Tsanawiyah. Sementara Giska, ayahnya adalah karyawan di perusahaan farmasi dan ibunya berprofesi sebagai guru SMA di kota Jogjakarta. Sementara si anak IPS, Hilda, kedua orang tuanya berprofesi sebagai wiraswasta, memiliki jasa tour n travel dan laundry.
           
            Inilah yang ingin saya tunjukkan, superioritas dan inferioritas ilmu. Semua dilatarbelakangi motif sama, dan agaknya bagi saya ini bukan sebuah motif yang bisa dipertanggungjawabkan dengan akal sehat, motif mencari pekerjaan dan peluang sukses di masa yang akan datang. Stereotip –ijinkanlah saya menyebut ini sebuah stereotip –yang terbentuk dari mentalitie mereka adalah “peluang menemukan pekerjaan anak IPA lebih baik dibanding anak IPS”. Akhirnyalah, peluang ini dikaitkan dengan masa depan seseorang. Idealnya, orang yang mudah menemukan pekerjaan maka korelasi logisnya adalah kesuksesan akan mudah diraihnya.
           
            Menilik survey kecil saya di daerah Jogja beberapa hari yang lalu, dapat saya simpulkan bahwa rupanya, hingga tahun 2012 ini IPA masih menjadi gengsi tersendiri. Masuk IPA adalah sebuah kebanggaan, walau harus dijalani dengan adanya unsur pemaksaan. Pemerkosaan terhadap keniatan, keinginan, skill, dan kemampuan dasar seseorang. Seperti kasus Mae dan Giska di atas tadi. Ada keterlibatan orang tua dalam penentuan pilihan mereka.
           
            Masuk kuliah pun sama. Mereka berebut passing grade yang tertinggi, memandang seolah-olah yang passing grade-nya tinggi adalah jurusan yang akan membawanya pada tangga kesuksesan tertinggi. Well, saya tidak menyalahkan apalagi men-judge jurusan eksak itu buruk, sebab terbukti sampai sekarang kita merasakan manfaatnya. Namun berada dalam wilayah tidak nyaman, memilih bidang keahlian tanpa minat, memaksakan mencari yang grade-nya tinggi, adalah kesalahan.
           
            Jika menengok beberapa masa ke belakang, maka ijinkanlah saya mengkotak-kotakkan profesi terfavorit ke dalam sebuah periodisasi. Pernah ada masa ketika dokter menjadi profesi paling favorit, sehinggalah fakultas kedokteran laris manis diserbu calon mahasiswa. Itu pernah, dan bahkan masih sampai sekarang. Serupa dengan profesi guru. Meski prestice tidak setinggi dokter, namun alasan mudanya mencari pekerjaan sehinggalah jurusan pendidikan juga favorit, dan semua berbondong-bondong menjadi guru. Sekitar tahun 2000 kita dihadapkan pada arus modernisasi yang super cepat, sehingga menimbulkan impak arus komunikasi begitu kencang, maka muncullah prodi favorit seperti teknologi informasi dan komunikasi. Semua yang berbau IT diserbu. Beberapa waktu terakhir muncul jurusan ilmu favorit baru, design. Dunia pun menjadi lebih berwarna-warni dengan kehadiran orang-orang design. Pertanyaan menggelitiknya, “kapan profesi menulis diminati sebagaimana minat terhadap profesi dokter, bidan, guru, pengacara, arsitektur, dan sebagainya?”
           
            Lulus sekolah, saya pun ingin kuliah di kedokteran, namun karena berbagai kendala akhirnya saya gagal. Satu frame yang ingin saya tekankan adalah, kita masih terbodohi dengan berkata: ilmu-ilmu sosial pada umumnya dan sastra pada khususnya adalah ilmu yang teranaktirikan. Lagi-lagi saya juga masih berada pada frame bahwa eksak lebih baik dari sosial.  Melalui perenungan kali ini, saya ingin mengajak Kawan semua untuk melupakan sejenak dunia angka, mari bertamasya ke dunia warna-warni milik orang otak kanan, dunia fiksi.
           
            Oke, saya tidak akan bicara banyak tentang dunia akademisi. Pengkotak-kotakan seperti itu biarlah menjadi pekerjaan orang-orang manajemen pendidikan, atau expert pendidikan. Sengaja saya masuk ke dalam pembahasan menyoal IPA dan IPS untuk membuka mindset baru bahwa semua bidang keilmuan adalah sama baiknya. Semua bidang keilmuan memerlukan ahli dan akademisi untuk melakukan penelitian, menemukan sesuatu yang baru, merumuskan teori, dan mengembangkan bidang keilmuan itu untuk mencapai peradaban yang lebih maju.
           
            Lantas di mana IPA dan IPS dalam fiksi itu?

            Saat baru pertama menulis, sebagai mula-permulaan, adalah wajar ketika penulis berkutat pada wilayan aman, berkutat pada ranah pengalaman pribadi. Secara sederhana dapat saya katakan bahwa pada tahap ini penulis berusaha menggali segala kekayaan fiksi dalam dirinya, untuk kemudian direkonstruksi ulang menjadi cerita fiksi. Tidak mengapa, dan itu sah-sah saja. Semua memang selalu berubah, dan semua dalam rangka menuju kemapanan. Menjadi penulis juga harus melalui tahap-tahap tertentu, tidak bisa instan dan tiba-tiba menjadi penulis besar. Kecuali naba besar seperti Andrea Hirata, yang dengan karya perdananya, Laskar Pelangi, langsung menggebrak dunia kesusastraan.  
            Ada tahap menjadi penulis yang biasanya dilalui seseorang yang berproses menjadi penulis:
1.    Trial eror
2.    Pencarian personal brand
3.    Konsistensi
4.    Penguatan brand
5.    Eksplorasi dunia dalam berkarya
            Pada tahap trial-eror, penulis masih berkutat di masalah pribadi yang diceritakan ulang, menyoal sesuatu yang pribadi dan ingin ditunjukkan kepada khalayak. Pada tahap ini, penulis tidak dituntut menyertakan banyak referensi dalam tulisannya. Kepada peserta workshop penulisan, saya selalu menyampaikan penggolonagan penulis menjadi “novelis” dan “story teller” atau “pencerita” atau “tukang cerita”. (Penjelasan mengenai perbedaan antara novelis dan pencerita akan saya jelaskan pada materi penulisan berikutnya.) Jika harus memposisikan, saya selalu memposisikan penulis-penulis ini dalam satu pengkategorian “pencerita”. Mereka menceritakan tokoh dengan alat bantu lima unsur intrinsik lainnya, dan sesekali unsur ekstrinsik ikut menunjang penguatan namun dalam porsi yang tidak terlalu signifikan.  
            Ketika penulis telah memasuki tahap ke-empat, yakni penguatan brand, penulis akan memasukkan unsur-unsur ekstrinsik secara lebih mendalam. Ini bukan berarti pada tahap pertama, yakni trial-eror, penulis tidak memasukkan unsur ini. Hanya saja kapasitasnya masih terbatas, dan penyertaan unsur ini belum dianggap sesuatu yang frontal. Pada tahap matang, yakni penguatan brand penulis, penulis mulai mementingkan unsur ini. Cerita dipondasi dengan unsur intrinsik, dikuatkan dengan unsur eksrinsik. Unsur ekstrinsik ini bisa menyangkut religi, sosiologi, hukum, ekonomi, astronomi, astrologi, antropologi, humaniora, dan sebagainya. Dan tentu saja ini terjadi pada tahap yang terakhir, yakni ketika penulis berada pada tahap pengekspolarasian dunia melalui karya. Unsur intrinsik yang dalam tahap trial-eror menjadi unsur yang frontal, menjadi unsur sarana pengungkapan semata, dan lebih menonjolkan unsur ekstrinsiknya.

            Nah, di sinilah menariknya menjadi penulis.

            Saat duduk di bangku kuliah, saya mendapatkan materi kuliah Ilmu Alamiah Dasar dan Ilmu Sosial Dasar. Saya menganggapnya sebagai pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial di bangku SD waktu dulu. Awalnya saya mengikuti materi kuliah ini hanya karena alasan kewajiban saja, tuntutan lulus dari sebuah beban paket mata kuliah. Tak ada yang menarik dari mata kuliah ini.
           
            Namun setelah saya menjalani sebuah proses menjadi penulis saya merasakan sekali pentingnya saya mengikuti dua mata kuliah ini, sebuah mata kuliah wajib di Fakultas Ilmu Budaya. Tepatnya ketika saya membaca ulang cerita yang sudah saya tulis, dan saya merasa tidak menemukan power dalam tulisan-tulisan saya. Pada suatu ketika, saya tersadarkan pentingnya IPA dan IPS ini. Ceritanya, kala itu saya sedang menulis tentang seorang dokter (rupa-rupanya saya memang kepincut profesi mentereng ini, tapi tidak kesampaian. Hiks hiks hiks) yang mengobati kelainan jantung bawaan pada anak-anak. Saya membaca, mencari tahu dari berbagai sumber bacaan seperti apa kelainan jantung bawaan pada anak-anak itu? Dari berbagai sumber bacaan itu saya mendapati beberapa istilah dan membuat dialog begini misalnya,
            “VSD. Ventrical Septal Defect. Ini berakibat darah yang membawa sari-sari makanan justru masuk ke dalam paru-paru dan bercampur dengan darah kotor. Akibatnya, pertumbuhan menjadi lambat, kemudian juga paru-paru menjadi ekstra dalam bekerjanya, sehingga ini berpengaruh terhadap imunitas atau kekebalan tubuh si anak, anak jadi mudah terserang penyakit…” kata Dokter.
            Adalah “tidak lucu” jika kita, penulis, hanya menyebutkan dengan begitu simple-nya lantas lari dari penjelasan ilmiah untuk menguatkan pernyataan dalam cerita sehingga pembaca mampu menggambarkan cerita yang kita bangun secara holistis sempurna. Andai saya tidak membaca lagi buku ilmu kedokteran, barangkali dalam tulisan saya tidak akan berbunyi seperti petikan dialog di atas namun misalkan akan berbunyi begini, “anak ini terkena kelainan jantung, dan harus dioperasi.” Titik. Saya tidak akan menjelaskan apa itu VSD, darah kotor, imunitas, dan istilah medis lainnya.
            Andrea Hirata tidak mungkin menuliskan bahwa di sekitar sekolah Laskar Pelangi-nya tumbuh tanaman felycium andai Andrea tidak membaca dan tahu ilmu IPA. Bisa jadi Andrea mengosongkan deskripsi di sana tanpa menyertakan nama latin tumbuhan ini. Tentu saja ini akan mengurangi estetika cerita yang dibangun dan penguatan brand Andrea Hirata sebagai penulis novel scientist.
            Paragraf pembuka novel “Sang Pemimpi” pun demikian, semata bisa tercipta karena Andrea menguasai ilmu-ilmu IPA. Berikut saya kutipkan:
Daratan ini mencuat dari perut bumi laksana tanah yang dilantakkan tenaga dahsyat kataklismik. Menggelegak sebab lahar meluap-luap di bawahnya. Lalu membubung di atasnya, langit terbelah dua. Di satu bagian langit, matahari rendah memantulkan uap lengket yang terjebak ditudungi cendawan gelap gulita, menjerang pesisir sejak pagi. Sedangkan di belahan yang lain, semburan ultraviolet menari-nari di atas permukaan laut yang bisu bertapis minyak, jingga serupa kaca-kaca gereja, mengelilingi dermaga yang menjulur ke laut seperti reign of fire, lingkaran api. Dan di sini, di sudut dermaga ini, dalam sebuah ruangan yang asing, aku
terkurung, terperangkap, mati kutu. (Andrea Hirata dalam “Sang Pemimpi” halaman 01)
           
            Atau sebuah pelajaran IPS dari tulisan saya tersebutkan demikian:
           
            Benar sekali, bahwa sekumpulan manusia yang berkumpul dalam wilayah teritori akan melakukan interaksi dan saling bergantung. Sekumpulan itu lalu dipimpin oleh satu atau beberapa orang menggunakan seperangkat atur-aturan, demi menertibkan. Keadaan itu akan lama berlangsung. Terciptalah kebudayaan dari sana. Lama bertahan dalam ritme seperti itu. Meski tak terlihat, kehidupan sekumpulan manusia itu sejatinya sangat dinamis. Mereka berubah dan berkembang. Namun jika kehidupan bagai penjara bodoh, bagai tatanan yang mengultuskan nilai-nilai kesialan seperti jamannya jahiliah sebelum Islam datang, maka segalanya harus diubah. Struktur kemasyaraktan itu tak statis. Seperti pendapat Giddens, sebuah struktur juga mempunyai kemampuan untuk “enabling”, bukan hanya membatasi unsur-unsur di dalamnya. Struktur masyarakat kami kurang lebih sama dengan jahiliahnya sebelum nabi Muhammad, meski tak sebegitu parah memang. Sebagaimana struktur itu enabling, kami –atau aku akan mengusahakan tepatnya –akan berubah. Aku sangat menginginkan penduduk kami bebas buta huruf, bebas buta akidah, bebas buta Al Quran, bebas buta Islam. Tak mudah memang. Ibarat benang kusut, aku, atau empat berkawan tepatnya, harus mendirikan tegak benang kusut itu. Dengan apa empat berkawan akan melakukannya? Pertama tentu dengan niat dan keyakinan. Duh Gusti, mudahkanlah jalan kami memuliakan ajaran-Mu. Amin…     
            Aku tak dapat pejam untuk tidur, badanku pegal-pegal seperti segala perekat dalam sendiku terpental satu-satu. Sampai sesubuh begini aku masih memikirkannya. Empat berkawan dan bedol desa. Aku terlalu menggelisahkan transmigrasi bedol desa yang akan memangkas kebersamaan empat berkawan. Semalaman aku memikirkan nasib kami: empat berkawan dan Bayur dengan kejahiliahannya. Hingga adzan subuh di kejauhan mememanggilku aku masih belum juga memejamkan mataku ini. Semua seperti menjadi kesia-siaan. Sebentar lagi persatuan empat berkawan hanya tinggal nama. Percuma saja pekan lalu memenangi lomba penulisan dongeng, dan sebentar lagi akan maju ke tingkat provinsi, mewakili kabupaten Banyumas. (Suyatna Pamungkas dalam “Anak Negeri”, halaman 71)

Berbagai istilah asing muncul dari tulisan Andrea Hirata, begitupun dalam tulisan saya, dalam tulisan Pramoedya Ananta Toer, dalam tulisan Ahmad Tohari, dan semua penulis yang berusaha membangun kesatuan cerita yang  istana sentris, dan bernilai estetika tinggi.

Ini penting untuk dilakukan terutama mereka yang telah atau sedang dalam tahap penguatan brand, sebab jika membenarkan bahwa penulis adalah “tuhan setelah Tuhan” maka penulis harus mengetahui berbagai aspek dalam penulisannya. Tujuannya mulia, yakni untuk menuntun pembaca agar dapat serasa hadir di dalamnya. Pembaca akan merasa terntuntun dengan adanya deskripsi yang gamblang dan tuntas. Namun begitu, jangan sampai penulis larut dalam penjelasan deskripsi sehingga bukan dia membuat pembaca mengerti namun sebaliknya, bingung memahami. Penulis yang baik adalah yang mampu menjelaskan kepada pembaca dengan tuntas tapi mudah dimengerti, sedang penulis yang buruk akan membuat pembaca kelelahan membaca deskripsi panjang yang tidak mengandung makna tuntas.
Inilah ilmu IPA, kegunaan ilmu IPA dalam fiksi.
Nah, untuk menulis dengan tuntas itu maka ilmu menulis yang saya cetuskan pada kesempatan kali ini berbunyi: bahwa penulis juga harus menguasai Ilmu Alamiah Dasar dan Ilmu Sosial Dasar. Bahwa penulis yang baik adalah yang menguasai paling tidak Ilmu Alamiah Dasar dan Ilmu Sosial Dasar.



Baca Terusannya »»  

Minggu, 22 Januari 2012

PENGUMUMAN PEMENANG LOMBA CIPTA CERPEN INDONESIA 2011 (LCCI 2011) DARI INDONESIAN WRITERS UNIVERSITY

Berikut  Pemenang Lomba Cipta Cerpen Indonesia 2011 (LCCI 2011):

(Urutan tidak menunjukan penilaian)

1.Akhir Pertaruhan Lelaki Pecinta Air (Fatih Muftih)
2. Aku Bukan Kurcaci (Sherlly Ken Anaqah Hamidah)
3. Awal Cinta Sepanjang Jalan (Busyra)
4. Badai Batu Drupadi (Inung Setyami)
5. Bittersweet game (Ratna Mar-atush)
6. Cerita Hati (Erma Rotiana D)
7. Indah Pada Waktunya (Asyifa)
8. Jalan (Widya)
9. Jejak Cinta Lesmana (Nenny Makmun)
10. Jika Sore itu tak Hujan (Asef Saeful Anwar)
11. Judul (Sandza)
12. Kabut Surau (Hermawan W Saputra)
13. Kaus Kaki Natal (Dianna Firefly)
14. Lelaki yang Takut pada Sepi (Fandrik Ahmad)
15. Monolog Kerinduan (Mawaidi D Mas)
16. Nyalon Lurah (M.Arif Budiman)
17. Perempuan Pantai Utara (Zamzami Elriza)
18. Permintaan Ajeng (Hilal Ahmad)
19. Racun (Arieska Arief)
20. Senja Mengukir Kisah (Nyi Penengah Dewanti)


Cerpen Favorit Juri:

1. Pahlawan Kecilku (Feby Pratama)
2. Aku Ada (Salma Keant)
3. Cahaya Terakhir (I Dewa Ayu Diah Cempaka Dewi)
4. Untuk Senyum untuk Ibu di Surga (Wahyu Nunung W)
5. Menuju Moksa (Adi Nugroho)

Terima kasih kepada seluruh peserta LCCI tahun 2011, bagi yang belum “beruntung” bisa mengikuti event sejenis di akhir tahun 2012.

Kepada para pemenang, kami ucapkan selamat atas karya Anda semua, semoga tetap produktif berkarya dan berbagi ilmu kepenulisan kepada sesama.

Untuk selanjutnya, bagi 20 pemenang harap mengirimkan email ke iwu.berkarya@yahoo.com dengan format:  Registrasi Mahasiswa IWU 2012_NAMA, yang di dalamnya berisi:

1. Surat pernyataan berisi kebersediaan mengikuti kuliah online bersama Indonesian Writers University.
2. Lampiran daftar riwayat hidup (mohon diisi secara detil)
3. Lampiran contoh karya yang sudah dipublikasi, atau bagi yang belum bisa mengirimkan satu cerpen terbaiknya selain naskah yang diikutkan lomba LCCI 2011.
4. Semua file disatukan dalam satu dokumen .rar arau .zip

 
Catatan:
1. Peserta yang dinyatakan menang, namun tidak bersedia mengikuti kuliah online bersama Indonesian Writers University dipersilakan tidak mengirimkan dokumen seperti tersebut di atas, namun cerpen karyanya tetap akan dimasukkan dalam buku antologi "Monolog Kerinduan" (antologi pemenang LCCI 2011). Kebijakan yang  semula hanya menerbitkan 10 cerpen terbaik, dengan ini disampaikan oleh official IWU, bahwa kebijakan tersebut diubah menjadi: 20 cerpen terbaik dibukukan plus 5 cerpen favorit.

2. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat, dan panitia lomba tidak melayani surat menyurat dalam bentuk apapun.

3. Cerpen favorit akan ikut dibukukan bersama 20 pemenang LCCI, dan berhak mendapatkan buku antologi  “Monolog Kerinduan” setelah buku ini terbit, dan tidak diikutkan ke dalam kelas menulis.


Salam karya,

Suyatna Pamungkas
(CEO of IWU)
Baca Terusannya »»  

Minggu, 08 Januari 2012

If you can write

"If you can speak what you will never hear, if you can write what you will never read, you have done rare things. - Henry David Thoreau
Baca Terusannya »»  

Sabtu, 07 Januari 2012

A Great Book

"A great book should leave you with many experiences, and slightly exhausted at the end. You live several lives while reading it."  (William Styron)
Baca Terusannya »»  

Kata Mereka tentang IWU (Indonesian Writers University)



1.    IWU itu tempat aku pertama kali bisa mengembangkan minatku di bidang sastra. (Josephine Octavia , Jakarta)

2.    Buat saya IWU adalah kampus pertama yg saya masuki yg langsung bikin sy jatuh cinta ♥, hehe....! (Poetry Karatan, Jakarta)


3.    IWU memberikan saya pengetahuan-pengetahuan tentang kepenulisan. Menambah teman dan seperti berada saat di sekolah. (Luneta Aurelia Fatma, Depok)

4.    IWU itu perjalinan erat dalam segala hal. (Adrian Monteque)


5.    kesan pertama IWU, begitu mempesona, selanjutnya...? Seperti magnet: lagi..lagi...mau lagi. (Unis Sagena, Selangor-Malaysia)

6.    Senang! Itulah kata pertama yang terlintas di benak saya saat ditanyakan tentang kesan belajar di IWU. Saya yang memulai menulis secara otodidak dan "seenak-gue", sangat terbantu dengan postingan materi yang diberikan. EYD yang masih berantakan, diksi yang terlalu sederhana serta alur cerita yang tidak selaras dapat segera saya perbaiki setelah mendapat "pencerahan" dari sensei serta teman2 di IWU. Selain itu, mood menulis yang menurun juga dapat terpacu kembali saat sensei dan teman2 terus memberikan dorongan semangat plus komentar positif. Senangnya.... Tidak ada kesenjangan antara "senior" dan "junior" serta keramahan sensei yang hobi mention, membuat suasana di IWU semakin akrab, layaknya saudara sekandung padahal kami semua tinggal berjauhan.  Belajar di IWU, perlahan-lahan impian menjadi nyata. (Tha Artha, Surabaya)


7.    IWU Pembimbingnya kesan pertama kenal sangat baik ramah dan bersahabat kak syifa dan kak suyatna pamungkas dan sahabat lainya. IWU Penuh persahabatan baik,saling berbagi seperti keluarga canda tawa dan berbagi ilmu pengetahuan. (Yuni Farikh Araqan, Taiwan)

8.    IWU sangat WOW dan sesuatu, selain di sni dpt mendapat ilmu baru, saya juga mndapat pengalaman baru juga skaligus dapat kembali membangkitkan nyawa saya yang pernah redup (haduh alay deh ah!)  Di sini juga bisa bertemu sama teman-teman baru, adik baru,kakak baru, keluarga baru, semuanya serba baru tapi penuh kehangatan. Pokoknya IWU  the best. Seneng bisa belajar di sini sekaligus bisa punya keluarga baru :) luph u my campus, luph my family, semoga makin wow! Amin (Yetik Afriana, Surabaya)


9.    IWU emang lbh bersahabat dan welcome sm IWU addictnya.  (Khoirunnisa Dewi Suni, Bandung)


‎Suyatna Pamungkas,,,, belum lama kenal dan mengetahuin nama ini. sosok muda yang kreatif. disaat sebagian orang enggan membagi ilmu,, ia malah membagi secara gratis dan tak henti memberi semangat menulis bagi semua. IWU banyak memberi masukan dan cara menulis yang baik,,, semoga semua ga ada yang sia-sia.. Lanjutkan IWU khususnya kepada @suyatna pamungkas.....Thanks (Rifat Khan, NTB)


Baca Terusannya »»  

DEARFRENZ WRITING COMPETITION FOR VALENTINE With IWU (Indonesian Writers University)







Dalam rangka menyambut hari Valentine di bulan Februari, yuk ikutan “DF Writing Competition For Valentine!”
*25 Naskah cerpen yang terpilih oleh panitia akan diterbitkan menjadi buku antologi cerpen.

Berikut syarat-syaratnya :
1. Tidak ada batas umur peserta.
2. Tema cerpen : "Kasih Sayang"
3. Panjang naskah maksimal 9100 karakter termasuk spasi, atau 1400 kata dengan double line spacing atau sekitar 6-8 halaman kuarto. Menggunakan Font Times New Roman 12. Margin 4433 (atas dan kiri 4, kanan dan bawah 3).
4.  Memiliki akun Dearfrenz  (www.dearfrenz.com) dan bergabung di  Grup Indonesian Writers University di Dearfrenz (http://www.dearfrenz.com/group/146) serta mengajak dan mereferensikan info lomba ini ke catatan masing-masing akun facebook, minimal 20 teman.
5.  Menyertakan foto, biodata Penulis (termasuk akun Dearfrenz dan Facebook), profil singkat penulis, minimal 100 kata.
6. Peserta hanya diijinkan mengirim 1 naskah terbaik.
7.  Hak untuk memuat naskah-naskah cerpen di media online ada pada Indonesian Writer University dan Dearfrenz.
8. Panitia berhak mengganti judul dan menyunting tanpa mengubah isi.
9. Keputusan dewan juri mengikat. Tidak dapat diganggu gugat dan tidak ada surat menyurat.
 10. Lomba ini tertutup untuk karyawan dan segenap staff Indonesian Writer University.
11. Naskah di kirim ke email: suyatna_pamungkas@dearfrenz.com dengan subjek email:  DFWC_Judul Cerpen_Nama Penulis.
12. Naskah paling lambat diterima panitia tanggal 31 Januari 2012 pukul 00:00 WIB
13. Naskah yang dikirim merupakan karya asli dan belum pernah dipublikasikan.
Pemenang akan diumumkan pada tanggal 14 Februari 2012, di http://www.dearfrenz.com/ dan IWU

  
Pemenang I : Rp 200.000,-
Pemenang II : Rp 150.000,-
Pemenang III  :  Rp100.000,-

Pemenang I, II dan III akan mendapatkan buku antologi DF Writing Competition For Valentine + 500 Zpoint.

5 Pemenang Hadiah hiburan mendapatkan buku antologi DF Writing Competition For Valentine + 300 Zpoint.
Baca Terusannya »»