Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Labels

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Maret 2012

Make a Story (MAKESTOR)

Sore ini keluarga Darmawan mengajaknya untuk berkunjung ke panti asuhan Kasih Bunda yang menjadi tempat dirinya diadopsi oleh keluarga Darmawan. Dengan gaya angkuhnya, dia pun berjalan menuju ruangan Ibu Hesti selaku ketua panti di yayasan ini.

“Selamat sore, Pak Darmawan,” sapa Bu Hesti sambil menjabat tangan pak Darmawan.
“Sore, Bu Hesti,” balas pak Darmawan tak kalah ramahnya dengan Bu Hesti.
“Bu Darmawan dan Ceila juga ikut juga, ya?” ujar bu Hesti sambil melempar senyuman bahagianya pada Bu Darmawan dan Ceila. Bu Darmawan pun membalas senyuman Bu Hesti dan segera memeluknya, sementara Ceila hanya tetap terdiam ditempatnya sambil melempar senyum sinisnya pada Bu Hesti.

“Astagfirullah, ada apa dengan Ceila?” batin Bu Hesti dan sempat terdiam memperhatikan sosok Ceila yang telah berubah.
“Oh…iya sampai lupa, mari silahkan duduk semuanya!” ujar Bu Hesti mempersilahkan tamu istimewa di yayasan yang saat ini dia kelola. Pak Darmawan ini selain bersedia mengadopsi Ceila, beliau ini juga seorang donatur yang paling banyak memberikan suntikan dana untuk kemajuan panti asuhan Kasih Bunda.

Di episode kali ini, kita akan membuat kisah seorang Ceila yang bagaikan kacang lupa dengan kulitnya, sikapnya berubah semakin tak terarah, mungkin para IWU Addict bisa membubuhi ceritanya dengan berbagai konflik masalah, bisa jadi si tokoh utama ini dibuat menjadi seorang yang terjerumus pergaulan bebas remaja, atau bisa jadi juga IWU Addict menceritakan alasan dari si tokoh utama kenapa jadi berubah? Apa ada sesuatu di masa lalunya yang juga mempengaruhi perubahannya?

Yuk, kita lihat lanjutan cerita Ceila yang dibuat oleh para IWU Addict!

Josephine Octavia
"Hai, Ceila!" Tiba-tiba seorang gadis berkulit hitam memeluk Ceila erat.
"Apa-apaan sih lo?!" Ceila melepaskan pelukan gadis itu dengan kasar.

"Ini aku Fitri, Cel!" Fitri membelalak tidak percaya, kaget akan respon Ceila.
"Lo jangan sok kenal sok deket gitu ya! Dasar anak yatim piatu!" ucapan Ceila kontan membuat Fitri naik darah. Fitri mencengkeram tangan Ceila erat-erat.

"Cel, kamu asalnya juga dari panti asuhan ini, beruntunglah kamu diadopsi! Jangan sombong karena kamu sudah diadopsi! Aslinya kamu masih yatim piatu, Cel!" kata Fitri marah.
"Paling tidak gue masih lebih cantik dari lo, makanya gue diadopsi! Gak buruk rupa kayak lo! Jelek aja belagu," hina Ceila.

Kata-kata Ceila kontan membuat Fitri menangis. Kemanakah Ceilanya yang dulu? Yang baik hati dan mau berteman dengan siapa saja?
"Keterlaluan kamu Cel!" Fitri berlari ke kamar sambil menangis.
Bunda Syifa yang melihatnya langsung menegur Ceila.

"Kenapa kamu lakukan itu, Cel?" teguran Bunda Syifa hanya disambut dengan dengusan, dan Ceila berjalan keluar panti dengan angkuh, tak memedulikan panggilan dari kedua orangtuanya.

Elang Satria Refandika 
"Ugh! Apa-apaan sih mereka? Bunda dan Ayah juga apaan lagi? Ngapain juga bawa gue kesini?" batin Ceila kesal.
Gadis itu berjalan ke arah taman yang memang disediakan di panti itu untuk tempat bermain anak-anak. Dilihatnya, taman tampak ramai dengan anak-anak kecil yg sedang asyik bermain. Tertawa lepas, bebas. Ceila tersenyum miris. Baru disadarinya, sudah lama ia kehilangan tawa seperti anak-anak itu. Bahkan sudah tak lagi diingatnya, kapan terakhir kali ia merasakan tawa seperti mereka??

"Ah, sudahlah, lo kan udah kaya Ceila, jadi nggak perlu lagi mikirin begituan. Hidup lo tuh udah sempurna, perfect!" batin Ceila, menghibur diri.


Nita Sweet
Ceila berbalik dan tak jadi bermain di tempat yang seharusnya memiliki kenangan yang tak mampu dilupakan. Di tempat itulah dia biasanya bermain, di tempat itulah dia menemukan teman-temannya. Tapi, kekayaannya membuatnya tak ingin menginjakkan kaki di sana. 
Setelah menunggu beberapa jam, keluarga Ceila akhirnya pamit untuk pulang. 

"Bun, bisa gak sih kita gak balik-balik ke sini lagi!" ucap Ceila kasar pada Bundanya.
"Kenapa sayang? ada masalah kalo kita ke sana?" 
"Kalo ke sana jangan mengajak Ceila lagi." ujar Ceila.

Dalam hati Ibu Ceila berpikir, sejak pertama kali mengenal Ceila, Bu Darmawan sangat takjub pada sifatnya, Ceila tipe anak yang sangat penyayang sehingga Bu Darmawan memutuskan untuk mengadopsinya. Tapi sifatnya berubah 180 derajat. Apa yang terjadi padanya? Dalam keluarganya, Ceila selalu diajari untuk tidak bersifat sombong. Tapi kenyatannya lain. Ini tidak sesuai dengan apa yang diharapkan Bu Darmawan.


Kinanti Skorzeny
Sesampainya di rumah, hari sudah malam, Ceila yg sedari tadi tidur di mobil melanjutkan tidurnya kembali. Namun tidak untuk orang tuanya, Bu Darmawan justru mengajak suaminya bicara di ruang makan. Ia menjelaskan perihal perubahan sikap Ceila. Mereka pun berunding dan akhirnya mereka sepakat untuk melakukan sesuatu.

Reni Soengkunie 
Di tempat tidurnya yang empuk, Ceila tak kunjung bisa tidur. Matanya menerawang jauh keluar jendela. Menatap jutaan bintang yang membisu dalam keheningan malam. Tak tahu kenapa, bayang-bayang panti asuhan kumuh itu kembali memenuhi benak Ceila. Nyanyian-nyanyian masa kecil Ceila menari-nari dipikirannya. Gambaran masa lalu yang menyakitkan itu menusuk malamnya. "Ah, tau apa mereka tentang aku!" gumamnya.

"Huhhh.." Ciela menghela nafas panjang.
"Aku tak kan pernah lupakan setiap air mata yg pernah ku jatuhkan di panti asuhan itu!" umpat Ciela.


Yohanna Yang & Yetik Afriana
Kali ini pandangan mata Ceila mulai tertuju pada boneka Teddy Bear yang terpajang manis di sebelah figura foto Ceila bersama teman-teman pantinya. Fikiran Ceila pun mulai berputar bagaikan video drama. Dia teringat, saat itu ia sedang menangis tersedu-sedu karena berebut boneka Teddy Bear dengan Fitri, Bu Hesti yang saat itu memang sangat dekat dengannya, pun, menasehati Fitri agar bersedia meminjamkan boneka baru miliknya tersebut pada Ceila, tetapi Fitri justru memberikannya secara cuma-cuma walaupun saat itu dia juga sangat menginginkan boneka tersebut. 

Ceila yang merasa terharu pada saat itu pun berjanji pada Fitri dan teman-teman yang lainnya bila dia tidak akan pernah melupakan mereka semua. Ceila juga masih ingat bila dirinya pernah berkata pada adik-adik yang lebih kecil darinya untuk tetap semangat dan selalu berjuang untuk mencapai cita-cita mereka semua.

Kini air mata pun mengalir deras di pipi Ceila, ia raih boneka tersebut dan memeluknya dengan erat sambil mengenang sosok Fitri yang sudah baik padanya. Tanpa sadar air mata pun mulai membanjiri pipinya.

"Ih...apaan sih? nggak penting banget nangis cuma buat mereka." buru-buru dia usap air matanya.
"Ngapain juga aku peluk-peluk boneka busuk ini" gumamnya dan melemparkan boneka yang ada dalam pelukannya begitu saja.
Tiba-tiba dia tersentak begitu mendengar suara seseorang mengetuk pintu kamarnya.

Josephine Octavia 
"Ceila, kamu belum tidur?" Bunda Syifa membuka pintu perlahan.
"Belum, lihat sendiri kan?" jawab Ceila judes membuat Bunda Syifa hanya bisa geleng-geleng kepala.

"Ya sudah, kartu kredit kamu bunda ambil dulu, ya? Kamu bilang saja kalau ada perlu," Bunda tersenyum sambil mengambil kartu kredit yang tergeletak di meja.
"Eh! Apa-apaan nih! Kenapa kartu kreditku diambil?" Ceila berteriak sambil mencengkeram tangan Bunda Syifa.

"Bunda dan Ayah sudah berdiskusi. Sepertinya pengaruh gaya hidup kamu yang terlalu mudah membuat sifatmu berubah, Ceila. Jadi kami memutuskan untuk keras. Mbak Erni dan Mbak Siti sudah ditransfer ke teman bunda," jelas Bunda Syifa sabar.
"Nggak bisa gitu dong, Bunda! Kalau Ceila ada perlu gimana?" teriak Ceila marah.

"Bilang sama Bunda, nanti Bunda yang bayar," jawab Bunda Syifa.
Ceila tidak berkata apa-apa lagi, tapi ekspresinya terlihat marah dan... khawatir? Setelah Bunda Syifa keluar dari kamar, Ceila mengambil sebuah plastik berisi pil berwarna-warni dan menelannya.

"Cih, kalau kartu kreditku diambil, bagaimana aku melunasi pembayaran pil ini?" gerutu Ceila. Di sudut plastik tersebut ditempeli label bertuliskan "ECSTASY" besar-besar.

Yetik Afriana
Tanpa membuang waktunya, segera saja Ceila telan sebutir pil tersebut dan membiarkan pil itu menerobos kerongkongannya.

"Sial, gue mesti gimana ney?" gumamnya sambil merebahkan tubuhnya di singgasana empuknya.
"Gue harus cari cara untuk melunasi pembayaran pil ini, atau gue bisa mati kalo si Andrew menyetop stok pilnya buat gue," ujarnya dan bangkit dari ranjangnya.
"Ah...ya sudahlah, mending gue tidur aja." ujarnya dan kembali membaringkan dirinya setelah bermenit-menit mondar-mandir dikamarnya.

***

Sepulang sekolah, dia dikejutkan dengan kedatangan Andrew bersama beberapa pengawalnya.
"Ngapain lo kemari?" tanya Ceila begitu memergoki Andrew di depan pintu gerbang sekolahnya.
"Biasa, udah jatuh tempo ney."
"Apa? gue lagi nggak ada duit, besok aja gimana?"
"Apa? alasan aja lo, ya udah sekarang lo ikut gue!"
"Kemana, Ndrew?"
"Banyak nanya lo!" kecam Andrew sambil menarik tangannya secara paksa.

Elvira Natali
Ceila merintih-rintih kesakitan pada Andrew, pria yang sudah terkenal sebagai salah satu pengedar yang sudah menjadi buronan polisi bertahun-tahun itu menyeretnya ke mobil jip besar dibantu dengan kedua pengawalnya. Sempat ada beberapa pasang mata yang memperhatikan Ceila yang terlihat seperti hendak diculik itu, namun mereka takut untuk menolong karena melihat Andrew dan anak buahnya bertampang amat seram.

"Lo mau bawa gue kemana?" kata Ceila ketika sudah berada di dalam mobil sambil merintih karena kedua tangannya di pegangi oleh kedua pengawal Andrew. Andrew tertawa sinis sambil megemudikan mobil dengan cepat.

"Diam deh lo, anak kecil! lo liat aja nanti." Ceila terlihat marah karena dirinya di panggil "anak kecil", namun itulah kenyatannya, Ceila masih belia, umurnya baru 16 tahun. Ia memilih untuk diam. Sejujurnya ia takut, dan lebih takut lagi jika dirinya berkata macam-macam maka akan membahayakan dirinya sendiri.

to be continued....

Apa yang akan dilakukan Andrew pada Ceila? Penasaran? Simak lanjutan ceritanya di postingan selanjutnya, ya! *senyum*


sumber gambar
Baca Terusannya »»  

Rabu, 07 Maret 2012

Flash Fiction - KUNTI MATRE

Halo para pembaca setia IWU. Hari ini spesial komedi. Ca Ya mau menampilkan Flash Fiction komedi berjudul "Kunti Matre", hasil karya Runy Ginevla. Ini cerita persaingan cinta antara Kunti, Pocong, dan Genderuwo. Emmm...bagaimana kelanjutan kisah cinta absurd mereka?


Langsung baca aja, ya!


Kunti Matre
oleh : Runy Ginevla


Malam pekat. Auman serigala terdengar mengerikan dipuncak bukit. Jam berdentang 12 kali. Sebagai pertanda diijinkannya makhluk-makhluk astral berkeliaran didunia manusia. Pucuk blarak atau daun kelapa miring menantang sinar rembulan. Menciptakan siluet malam yang menyayat adrenalin. Suara lenguhan angin malam bagai cambuk yang membangunkan bulu kuduk.
            Ditempa cahaya bulan tampaklah seonggok makhluk tinggi dengan bungkusan mirip kemasan permen dengan tali melekat ditubuhnya; diatas ubun-ubun, leher, perut, paha dan ujung kakinya. Melompat-lompat membayang diatas tanah. Sementara itu diatas pohon randu bertengerlah sosok wanita dengan rambut panjang yang kerap kali dipanggil KUNTI tetapi dia menamai dirinya ‘KUN’ TIE CEWEK MANIES AND IMUT CELAMANYA.


Terlihat ia sedang mengelus-elus rambut panjangnya dan sesekali kedhik sambil memainkan tombol hapenya untuk mengupdate status terbarunya. Jangan salah lho, kunti yang satu ini gaul abis! sampai-sampai kemarin dia dinobatkan sebagai kunti ter-up-to-date se-dunia persetanan. Ketika diwawancarai oleh miss suster ngesot yang mau tidak mau harus menyediakan microphone sepanjang 3 meter lantaran ia tak bisa menggapai si kunti yang ada di atas pohon.
   ”Kali aja ada PH yang nawarin peran utama difilm layar bolong,”ujar si kunti
   “Sist Kunti, maksudnya layar lebar?”koreksi suster ngesot.
   “Itu mah didunia manusia ciin… kalau didunia persetanan kan namanya layar bolong. Ih… nggak up-to-date deh. Pasti situ nggak tahu kan, wartawan suster ngeost rencananya mau di PHK? saya tuh pencetusnya,”ujarn si kunti sambil tertawa ngikik yang menyebabkan matanya lebam ditimpuk suster ngesot dengan sepatunya.
   “Mending gue. Hari gini masih nyeker? hello… pakai sepatu dong kayak gue! gak kuat beli? kismin lo! kakaka.”


            Oke, kembali kecerita. Si kunti tak tahu bahwa ada yang mengamatinya dari balik nyiur ilalang. Genderuwo yang sedang gencarnya mengejar cinta si kunti.
   “Kalau ada yang ngasih 10 ribu kelopak bunga melati kepadaku, pasti langsung kujadiin pacar!” Seketika kuku si kunti yang panjangnya 1 meter mengklik tombol share.
Genderuwo dan pocong pun melihat status terbaru kunti yang membuat mereka cepat-cepat bertindak untuk mengumpulkan sepuluh ribu kelopak melati demi merenggut cinta kunti. Sekadar info, pocong yang satu ini sudah semedi di puncak Himalaya supaya tangannya bisa terbebas dari jeratan talinya. Dipersimpangan jalan, pocong yang tengah ngos-ngossan memacu kelincahan melompatnya bertemu dengan genderuwo yang kesusahan berjalan lantaran perutnya yang besar.
Tanpa memperdulikan pocong, genderuwo belok ke arah hutan rawa. Di baliknya ada ladang melati. Ia optimis bisa dengan mudah mendapatkan sepuluh ribu melati untuk kunti. Sementara pocong berbelok kepusat belanja yang masih hidup karena program “nightsale”nya yang sedang digandrungi ibu-ibu gila diskon. Ia bermaksud meminta sumbangan manusia di sana demi tercapai cintanya pada kunti. Dengan bermodalkan visi “sepuluh ribu kelopak melati untuk kunti” ia bertekad “apapun akan kulakukan demi kunti!”

Sementara itu kunti masih asyik duduk di atas pohon randu sambil menikmati suara jangkrik. Sesekali ada manusia yang lewat dan melihatnya lalu ngibrit ketakutan. Kunti sangat menyesalinya. Padahal manusia tadi masih berondong. Tapi apa boleh buat? ia harus tetap bertahan dengan pasangan yang sesama dunianya.
Terlihat dari kejauhan genderuwo membawa gerobak penuh berisi bunga melati. Wajah kuntipun sumringah melihatnya. Tak disangkanya bahwa genderuwo akan secepat itu menuruti keinginannya. Tapi tunggu dulu. Ada yang mengikutinya dibelakang. Nyi blorong tampak tergopoh-gopoh mengejar genderuwo. Ketika sudah sampai tepat dibelakang genderuwo yang jalannya kayak siput cacingan, ia pun segera menarik kuping panjang genderuwo.
   “Kurang ajar ya, kamu! nyolong kembang ditoko kembangku! kamu tak tahu apa? besok aku mau buka pameran bunga terindah sedunia persetanan? tak kempesi wetengmu iku nek wani karo aku!”ujarnya berapi-api
   “Iyo, ampun nyi… ampun,”
            Sementara itu, dibelakangnya lagi terlihat pocong yang melompat-lompat girang di ikuti dua tuyul yang mendorong gerobak berisi setumpuk bunga melati. Wajahnya terlihat menang dengan melihat apesnya si genderuwo. Setelah melewati genderuwo, pocong pun memberi salam perpisahan dengan cara menggoyangkan pantatnya ke arah genderuwo yang mengerang kesakitan.
   “Ih, mas pocong! baik bener deh mau bawain aku bunga melati? pasti mau ikut audisi jadi pacarku ya?”
   “Hehe… iya, mbak kunti. Gimana? saya lulus kan?”
   “Wah, sayang sekali. Udah ada mas tuyul ini yang bawain aku mentahannya. Jam sekarang kan nggak jaman ngasih tanda cinta pake bunga. Sekarang tuh pakenya duit mas pocong. Ih… sampeyan kurang up-to-date deh. Cacingaaan… deh lo!”
   “GUBRAAAKKK! KUNTI MATREEE!! Padahal saya pengorbanan nih ngemis di mall!”


………………..

Silakan berikan kesan-kesan kamu di kolom komentar, ya!
Baca Terusannya »»  

Rabu, 04 Januari 2012

Manusia Setengah Hari


 
 Oleh: Runy Ginevla
 
 Manusia setengah hari, itulah sebutan yang di berikan orang – orang kepadaku. Aku senang menerimanya. Ya, memang seperti inilah aku. Manusia yang hanya hidup setengah hari. Maksudku, setengah hari hidup sebagai laki – laki. Dan setengah hari lagi sebagai perempuan. Siang hari aku bekerja sebagai seorang lelaki tulen, dan malam hari aku bekerja sebagai wanita tulen. Aku sangat benci jika orang – orang menyebutku ‘banci’. Karena sebutan itu hanya untuk pecundang.
 
 Oke, perkenalkan namaku. Namaku kalau siang Anton, kalau malam Anti. Tetapi nama asliku Slamet. (*maaf bila ada kesamaan nama). Pagi sampai siang hari aku bekerja sebagai penjaja koran di kios milik temanku dan di selingi dengan mengamen. Dan di malam hari aku bekerja sebagai wanita penghibur di sebuah klub malam. Pekerjaan ini kulakukan dengan tidak ikhlas memang. Karena kebutuhan hidup yang memaksaku untuk mengais – ngais harta di tumpukan sampah sekalipun.
 
                 Terkadang ketika aku sedang bekerja sebagai ‘wanita penghibur’, aku kerap mendapatkan pelecehan. Tentu saja dari lelaki – lelaki keparat itu. Jijik aku kepada mereka. Begini – begini juga aku masih normal. Meski aku bekerja untuk melayani mereka, tetapi aku tak pernah mau di ajak mereka tidur. Aku cuma menemani mereka untuk minum. Aku senang, karena minuman beralkohol itu bisa membuatku tenang. Setidaknya untuk sesaat aku terbebas dari himpitan ekonomi.
 
                 Aku mengerjakan semua pekerjaan ini hanya untuk kekasihku. Aku bermaksud meminangnya. Tetapi orangtuanya tidak setuju jika anaknya bersanding denganku. Dikarenakan aku miskin dan pengangguran. Aku tak tahu lagi mesti bekerja sebagai apa di kota perantauanku ini. Dengan berbekal ijazah SMPku, rasanya tak mungkin jika aku di terima bekerja di gedung – gedung mewah itu. Aku berharap, kekasihku itu tak melihatku bekerja seperti ini. Aku berjanji, setelah uang tabunganku cukup, aku akan membangun usaha sendiri. Mungkin restoran.
 
                 Pernah aku mendengar kabar bahwa kekasihku itu akan di jodohkan dengan anak dari sahabat orangtuanya yang merantau ke Jakarta. Aku berusaha untuk mencari informasi mengenai lelaki pilihan orangtua kekasihku. Setalah dapat, aku minta di pertemukan dengannya. Dan setelah kami bertemu, aku dengan sadis membunuhnya dengan mencekiknya lalu setelah itu ku cabik – cabik wajahnya dengan pisau. Aku tak kan rela melihat dia duduk dengan kekasihku di pelaminan.
 
                 Aku memang punya sifat aneh yang di sebut psikopat. Tak dapat di hitung dengan jari jumlah orang yang sudah kubunuh. Aku lebih suka membunuh mereka dengan mencekik leher mereka. Karena dengan begitu mereka akan merasakan sakitnya tak bisa bernafas. Sakitnya ketika seluruh otot mereka mengejang. Sakitnya ketika malaikat maut menarik nyawa mereka perlahan – lahan. Dan setelah itu, aku potong – potong bagian tubuh mereka. Lebih seringnya sih tangan. Lalu ku kuburkan mereka di belakang kostanku. Tak ada yang tahu hal itu. Terkadang aku juga menyimpan beberapa potongan dari tubuh korbanku. Mungkin saja aku membutuhkannya untuk memngisi perutku ketika dompetku sedang kosong. Tak kalah enak rasanya dengan daging ayam.
 
                 Banyak suka duka yang ku kecup dari pekerjaanku sebagai ‘wanita penghibur’ ini. Dukanya tentu saja pelecehan – pelecehan yang ku dapat dari ‘bangsat – bangsat’ itu (*upss). Dan sukanya, aku bisa melampiaskan kekesalanku kepada mereka yang kerap mengajakku untuk ‘bermain’ bersama. Aku suka melihat mulut mereka mengeluarkan busa setelah meminum ramuanku. Aku senang melihat wajah putih pucat tak bernyawa mereka. Haha… mereka pantas mendapatkannya.
 
                 Ketika aku bekerja sebagai ‘wanita penghibur’, aku selalu membawa ramuanku. Karena tak mungkin kan aku membunuh mereka dengan pisau di depan umum. Meskipun pisau selalu ada di dalam tasku. Bagiku, manusia – manusia seperti itu patut di binasakan dari muka bumi ini. Aku hidup di dunia, tak ada yang peduli. Sahabatkupun cuma satu. Tengku namanya. Dia sangat baik kepadaku. Sering memberikanku pinjaman uang dan terkadang mengajakku makan – makan.
 
    “Ti, lo temenin gue malam ini ya. Gue mau curhat nih sama elo.”
    “Curhat apaan, Ku ?”
    “Adalah. Pokoknya malam ini gue mau minum ampe butung. Gue baru aja di putus pacar gue.”
    “Syukur deh. Tuh cewek kan emang nggak pantes buat lo. Mending ama Mince tuh. Haha..”
    “Ah… Mince mah stok lama. Haha…”
 
                 Sering aku mendengar dari teman – temanku kalau Tengku itu ‘gay’. Tapi aku tak percaya. Aku kenal baik dengannya. Tak mungkin Tengku yang playboy itu ‘gay’. Lagipula, aku tak pernah melihatnya membaca majalah cowok atau bermesran dengan cowok.
 
                 Malam itu, ku temani Tengku bersenang – senang di klub tempatku bekerja. Malam ini malam minggu. Pantaslah jika klub penuh banget. Tapi malam ini, aku prioritaskan untuk menemani sahabatku, Tengku. Kami mengikuti musik yang di mainkan oleh DJ. Lampu kerlap – kerlip menyilaukan mata kami. Dengan penerangan yang remang – remang, aku masih bisa melihat segerombolan besar manusia menari – nari di bagian tengah ruangan klub ini yang memang di siapkan untuk tempat menari. Beberapa pria duduk di sofa yang ada di sudut ruangan sambil bercumbu dengan 2 – 5 orang wanita. Benar – benar memuakkan.
 
    “Anti, lo tahu nggak sih ? gue tuh sayaaaang banget sama elo.”ujar Tengku tiba – tiba dengan mulut berbau alkohol.
 
 Mungkin sekarang dia benar – benar mabuk. Ku tahan badannya yang agak limbung agar tidak terjatuh. Dengan botol wine di tangan kanannya, dia berusaha memelukku. Awalnya aku biasa aja. Karena aku tahu, Tengku sedang bersedih saat ini. Tapi lama kelamaan, Tengku mulai menggerayangi tubuhku. Dia kecup lenganku. Ihh… aku semakin risih saja. Berkali – kali ku coba menjauhkan tubuhnya dari tubuhku. Tapi dia malah memberontak. Sampai – sampai ku tampar wajahnya untuk menyadarkannya. Tapi dia malah semakin brutal.
 
 Akhirnya, dengan berat hati ku keluarkan pisau dari dalam tas yang ku geletakkan di sampingku dan ku arahkan ke arahnya. Dia kaget, dan mundur menjauhiku. Semua orang menoleh ke arahku. Beberapa bodyguard mulai menyergapku. Tapi mereka kalah, karena aku memutar – mutar pisauku ke arah mereka hingga menyobek perut mereka. Hening semuanya. Tampak wajah – wajah ketakutan menatapku. Setelah ini aku berencana untuk lari secepat – cepatnya meninggalkan tempat itu.
 Dengan nafas terengah – engah, aku bangkit dari dudukku dan bersiap – siap untuk mengambil langkah seribu. Beberapa saat hening, kemudian ketika tepat langkahku di mulai untuk meninggalkan tempat terkutuk itu, Tengku menarik tanganku dan menarikku ke dalam pelukannya. Aku sudah tak tahan lagi. Ku tusuk dadanya dengan pisauku. Tepat di jantungnya. Sekarang tak ada lagi yang berani kepadaku. Mereka semua mundur menjauhiku. Setelah ku lihat wajah Tengku yang mulai memucat, dan darah segar mengucur dari dadanya. Aku menangis.
 
    “Tengku, maafin aku.”ratapku sambil memeluk tubuh lemahnya. Dia tersenyum menatapku. Meski dengan raut muka kesakitan. Dengan mata yang hamper terpejam, dia kecup keningku. Ihh… rasa jijik kembali menggerayangiku.
 
                 Beberapa orang mulai berlari ke arahku dengan senjata masing – masing. Mereka menggunakan kesempatan ketika aku sedang lengah ini. Tapi aku tak kurang akal, segera ku raih botol wine yang ada di atas meja. Lalu ku arahkan ke mereka. Botol itupun pecah membentur lantai. Lalu ku ambil korek gas di atas meja, menyalakan apinya, lalu ku lempar korek itu ke arah lantai yang basah oleh wine itu.
 
    “Letakkan sejata kalian !!”teriakku kepada semua orang. Semua menurut, lalu ku raih dua buah pistol yang di serahkan oleh bodyguard di klub itu. Ku tembakkan pelurunya ke arah rak – rak minuman beralkohol yang terletak di samping tempatku duduk. Tak lama, klubpun meledak. Aku beruntung, masih sempat melarikan diri. Dari luar, aku melihat manusia – manusia malang terbakar di dalam klub itu. Beberapa mobil polisi dan mobil pemadam kebarakaran tiba beberapa menit setelah aku berhasil kabur dari tempat itu.
 
                 Aku berlari sambil tertawa terbahak – bahak dan menembakkan pistolku ke semua orang yang melihatku. Mereka semua terkapar tak berdaya. Tapi di tengah jalan, ada beberapa orang anggota polisi yang mencegatku. Ku arahkan pistolku ke arah mereka. Tapi ternyata mereka punya lebih banyak pistol daripada aku. Aku menyerah. Ku angkat tanganku ke atas. Dan mereka mulai memborgol pergelangan tanganku. Sambil di seret – seret menuju ke mobil polisi, aku berucap pada dunia.
 
    “Tunggu aku ! Aku akan menghancurkan kalian semua ! tak akan ku biarkan kalian hidup ! haha…”
 …………………
    “Hahaha…. Kalian akan ku hancurkan ! akan ku cabik – cabik tubuh kalian ! hahaha….”tawa histeris Slamet alias Anto alias Anti itu membahana di seluruh koridor rumah sakit jiwa itu. Tampak kakinya di rantai ke kaki tempat tidurnya. Beberapa orang perawat berusaha menyuntikkan obat penenang kepadanya.
 
                 Di koridor rumah sakit itu, tampak seorang gadis berusia sekitar 25 tahun berjalan tergesa – gesa.
 
    “Dok, di mana tempat Slamet di rawat ?”Tanya gadis itu kepada seorang dokter yang terlihat terengah – engah karena mengikuti langkah sang gadis yang terburu – buru.
 
    “Tidak usah terburu – buru, mbak. Ini kita sudah sampai. Silahkan masuk.”ujar dokter itu mempersilahkan gadis itu untuk masuk ke ruangan berukuran kecil. Dengan tubuh bergetar, gadis itupun memasuki kamar itu. Sesampainya di dalam kamar itu, dia jatuh terduduk di lantai. Tak kuat lagi menyangga tubuhnya yang lemas. Miris dia melihat kekasihnya yang di rantai.
 
    “Slamet… slamet… sla… slamet ??”ujar gadis itu parau. Lelaki dengan rambut acak – acakan itupun menoleh. Bebarapa saat diam terpaku memandangi sosok gadis di hadapannya itu.
 
    “Eh… Diah ? Di… ah ? Diah ??”ujar lelaki itu
 
    “Iya, ini aku Diah. Kamu kenapa seperti ini, Met ?”
 
    “Diah ?”dengan langkah terseok – seok, di hampirinya gadis itu. Di pegangnya kedua pipi gadis itu. Setelah menyadari kenyataan bahwa kekasihnya datang menemuinya, Slametpun menangis.
 
    “Aku menunggu kamu di kampung. Aku percaya kamu bakal sukses di Jakarta. Tapi kenapa kamu… kenapa kamu… hiks”tak kuat lagi gadis itu menahan rasa kecewaannya. Di tatapnya wajah sang kekasih. Banyak perubahan yang terjadi di wajah yang sangat dirindukannya itu. Sorot matanya sayu. Wajahnya penuh baret luka. Urat – urat di wajahnya menonjol. Sangat mengerikan.
 
    “Aku memang sudah sukses, sayang. Lihatlah ! aku hebat kan sekarang ? kamu tahu ? aku sudah membunuh banyak orang. Aku makan daging mereka dan ku kubur mereka di belakang rumahku ! haha… aku hebat kan ? kau harus bangga padaku !”
 
 Tak ada lagi yang dapat di katakan gadis itu. Lelaki yang di pujanya, yang di nantikan kehadirannya, yang di pertahankannya, sekarang telah menjelma menjadi iblis yang menjijikkan.
Baca Terusannya »»  

Selasa, 03 Januari 2012

Dibatas Senja


Oleh: Nita Inara
    
 15 Maret-2010
 Langit cerah ketika aku sedang berjalan-jalan dengan sahabatku. Nina tampak bahagia, begitu juga dengan aku lebih cerah lagi senyumku dibanding yang lain. Sampai peristiwa itu terjadi, saat sebuah mobil melaju kencang dan menabrakku sehingga semuanya berubah, begitu juga dengan senyumku... yang berubah menjadi kesedihan yang menerpaku. Semenjak itu aku meminta untuk mengurung diri dari duniaku, aku menjadi terasing dan aku mengurung diri dalam kesendirianku. Hampa. Hanya hampa yang menemaniku saat ini.
 
 ***
 12-April-2010
 “Non Dewi, sudah waktunya makan siang.” Ucap pembantuku membuyarkan lamunanku, aku mengingat semua hal yang terjadi pada masa lalu. Aku menangis dalam diam, tak bisa bicara karena aku telah menjadi wanita bisu sejak itu. Aku ingin marah, tapi pada siapa, aku ingin berubah dan ingin dimengerti tapi siapa yang akan mengerti keadaanku saat ini. Aku hanya mengangguk setelah mendengarkan suara pembantuku berbicara. Setelah itu aku ke meja makan tanpa teman. Inilah pilihan hidup yang aku inginkan sejak peristiwa tragis itu menghanyutkan mimpiku.
 Jember menjadi kota tujuanku untuk hidup menyendiri, kali ini aku berjalan di pantai Watu Ulo, duduk diam sendirian dan selalu sendiri dikala senja mulai menampakkan warna jingganya.
 “Sendirian?” suara lelaki di sampingku mengagetkan aku, dia tak tahu apa yang sedang aku pikirkan saat ini. Betapa aku ingin dimengerti dan betapa hatiku hancur karena masa lalu dan dia tak tahu tentang aku.
 “Sendiri.” Aku menulis pada sebuah kertas. Ya, aku selalu ditemani oleh kertas dan pena dalam hidupku. Aku adalah wanita sukses diumur 25 tahun ini dalam hal karier dan segalanya tapi belum sempat merasakan indahnya cinta.
 “Terkadang masa depan kita hari ini tak sesuai dengan keinginan kita. Tapi terima saja dengan bijak, mungkin inilah jalan terbaik itu. Tuhan selalu punya kejutan,” ujar lelaki yang belum beberapa menit aku mengenalnya, bahkan belum sempat berkenalan dengannya.
 “Namaku Dimas, aku ke sini untuk memastikan keadaan ibuku. Sebenarnya aku bertempat tinggal di Jakarta, kau pasti sedih sekali dengan keadaanmu, aku yakin kau kuat menjalani hidup ini.” Jelasnya dan membuat aku mampu menerima keadaanku. Aku benar-benar sadar bahwa hidup ini penuh dengan masalah, tidak hanya bersenang-senang. Mungkin hanya waktu itu aku bahagia dan sekarang saatnya kesedihan bersamaku.
 “Dewi.” Lagi-lagi aku menuliskan dalam sebuah kertas. Aku mampu memandang dunia, aku mampu merasakan nikmatnya hidup ini tapi aku tak mampu berbicara. Aku wanita cacat.
 “Dewi, aku pergi dulu. Sampai jumpa lagi. Semoga senja akan mempertemukan kita nanti.” Pamitnya padaku, aku sungguh merasa nyaman bersamanya. Tapi secepat itu dia pergi  dan meninggalkan aku dalam kesedihan.
 Sejak pertemuan pertamaku dengan Dimas, aku mulai suka duduk sendirian di Pantai Watu Ulo dan, aku menyukai senja, aku menunggunya dengan penuh harap kedatangannya. Aku memikirkannya pada pandangan pertama.. aku seperti terbius oleh kata-kata indahnya.
 
 ***
 Satu bulan telah berlalu sejak kedatangan lelaki misterius itu. Dimas tak datang lagi. Aku semakin merasa sendiri. Siapa yang akan mengajakku bicara, hampir tak ada yang menemaniku, aku membutuhkannya saat ini. Kembali aku datang ke tempat yang sama, duduk di tempat yang memberi kesejukan seperti waktu itu.
 “Boleh aku duduk di sampingmu?” suara itu lagi yang hadir, aku semakin ingin tahu kapan jadwal Dimas ke Jember, aku semakin suka mendengarkan suaranya, dan aku punya rasa yang berbeda padanya. Rasa yang tak mampu terjelaskan, rasa yang datang dengan keindahan dan rasa yang menyerangku akhir-akhir ini.
 
 “Dew, sebulan yang lalu aku kembali ke Jakarta untuk sebuah urusan. Ibuku sakit disini, tapi ada seorang Ayah yang menungguku di Jakarta,” aku terdiam, tak mampu menuliskan sebuah kata. Aku memang tak perlukan pengakuannya, aku hanya butuh dia ada. Aku ingin mendengarkan suaranya yang membuat aku tersenyum bahagia.
 “Dew, senja telah beranjak dan berganti malam yang gelap. Boleh aku pergi?” pamitnya padaku. Kenapa dia selalu datang dan pergi. Padahal aku ingin sekali dia tinggal di kota kecil ini. Sejak aku cacat aku ingin tinggal di kota ini dan jauh dari teman-temanku. Peristiwa waktu itu cukup membuatku tak bisa kembali ke Jakarta. Aku sudah muak dengan teman-temanku yang datang ketika bahagia, tetapi ketika aku mengalami musibah ini mereka menghindar. Tak ada lagi yang mengenalku, tak ada yang memanggilku bahkan pacarku sekarang entah kemana.
 Aku memandangi punggung Dimas yang telah pergi meninggalkanku dalam kesendirian, dalam penantian yang tak berujung karena dia tak tahu perasaanku. Aku harus bagaimana. Aku ingin bicara dengannya, aku ingin dia tahu tentang rasa yang melekat dalam jiwa, aku ingin menghambur ke dalam pelukannya dan mengatakan rindu padanya. Semua itu tak akan terkatakan, kata itu hanya akan tersimpan dalam hati yang terdalam.
 
 ***
 Kembali aku menunggunya, sampai senja hilang dan kegelapan menerjang langit malam. Sampai aku lelah dalam penantian. Entah sampai kapan rasa ini akan memainkan hatiku. Dulu aku adalah seorang direktur utama majalah fashion di Jakarta, hampir semua orang segan padaku, menghormati profesiku karena diumur yang terbilang muda aku mampu mendirikan majalah fashion dan digemari oleh wanita muda seusiaku. Aku tak pernah gagal dalam bisnis, aku mampu mengasuh anak buah dengan baik dan aku adalah direktur handal. Tapi, aku sekarang adalah wanita lemah. sampai kapan aku akan duduk di sini dalam penantian yang tak pasti. Aku putuskan untuk menuliskan sebuah surat yang berisi puisi ungkapan hati untuknya. Dan aku berharap dia menemukan suarat itu.
 
 
 Untuk lelaki senja
 Lelaki senjaku
 Kapan kau akan datang temaniku
 Menghiasi senyum di bibir merahku
 Memenuhi hati kosongku
 Dan membuat warna dalam hidupku
 Aku memanggil Dimas dengan lelaki senja, karena dia adalah warna senja yang menghiasi hatiku dengan suara merdunya dan sejuknya kata-katanya. Gelap telah kembali menguasai malam, aku harus kembali ke rumah kecilku. Aku ingin kembali ke jakarta meski aku tak mampu bicara tapi aku mampu menulis, aku mampu meng-handle perusahaan yang aku dirikan setahun yang lalu.
 
 ***
 Sudah bulan keberapa sejak surat itu kutitipkan pada langit malam, awan hitam dan hujan. Aku kembali untuk melihat apakah ada balasan darinya, aku sangat berharap dia punya rasa yang sama dan harapan yang sama denganku. Ingin membahagiakan satu sama lain dan bersatu sampai ujung waktu. Aku melihat sebuah surat dalam tempat yang tertutup rapat, mungkinkah dia membalas suratku. Aku membukanya dengan gugup dan ada desiran indah yang menemaniku.
 Kepada sinar rembulan
 Sebenarnya kristal air matamu tak pantas kau jatuhkan
 Senyummu lebih indah daripada sebuah kesedihan
 Sinar rembulan lebih pantas bersinar terang diantara sekian bintang
 Karena kaulah yang menerangi langit yang kegelapan
 
 
 Aku bahagia melihat surat itu, aku tak akan kembali ke jakarta sebelum bertemu dia dan mengatakan tentang perasaanku padanya. Aku ingin tetap di sini dan menunggunya.
 Kapan Dimas akan datang ungkapku dalam hati diantara angin malam yang menandakan bahwa aku harus meninggalkan tempat ini. penantian ini yang membuat aku semakin tidak tahu harus bagaimana, aku tak tahu apakah Dimas juga punya rasa yang sama. Mungkinkah dia akan menerima aku dalam keadaan seperti ini. semua ini sangat sulit buat aku.
 
 ***
 Entah sudah berapa kalinya aku di pantai ini, aku seakan tak lelah menunggunya. Aku berharap dia akan datang dan menyampaikan sesuatu padaku.
 “Dew, berapa kali kau akan datang ke pantai ini?” suara lantang Dimas mengejutkanku, membuat aku tak mampu memandangnya.
 “Sampai aku menemukan kesejukan dalam hidupku.” Tulisku dalam sebuah kertas yang aku persiapkan dan Dimas akan dengan sigap mengambilnya dari tanganku. Hal yang selalu menarik menurut Dimas adalah memungut dan membaca kertas jawaban atas pertanyaanya.
 “Dew, aku sudah bertunangan kemarin, tepat setelah aku mendapat puisimu. Aku tak mampu menolak tunanganku karena dia adalah orang yang pertama masuk dalam ruang hatiku. Aku mencintainya, Dew. Tapi aku juga mencintaimu sejak mengenalmu.” Penjelasan Dimas membuat kristal air mataku mencair, membanjiri wajahku dan aku hanyut dalam kesedihan.
 “Dew, maafkan aku. Kau memang menjadi sinar rembulan yang menyinari kedalaman hatiku saat ini, tapi aku tak mampu melakukan apa-apa selain mengorbankan hatimu. Jika aku mengorbankan cinta pertamaku itu adalah hal yang lebih berat.” Jelas Dimas semakin membuatku kalut. Aku tak ingin kehilangan dia.
 “Dew, aku akan berdo’a untukmu. Semoga ada lelaki senja yang mampu memberikan cinta tulus untukmu. Aku yakin suatu saat pasti ada yang akan melihatmu. Kau tidak hanya cantik tapi kau memiliki ketulusan yang tak pantas dilukai.” Aku sudah tak mampu mendengarkan suaranya. Tapi aku tahu dia juga tulus mencintaiku.
 “Dew, maafkan aku.” Untuk terakhir kalinya dia mngucapkan maaf dan mencium keningku.
 “Dew, kau tak ingin menulis sesuatu? Aku masih menunggumu dan ingin menbaca puisimu meski sebentar saja,” seketika penaku berjalan diantara kertas putih yang kupegang, diaryku memasang warna kesedihan yang mendalam dan aku ingin membuat semua ini berakhir, mungkin Dimas mengajakku bermain puisi untuk meredakan kesedihan yang kurasakan.
 Senjaku
 Terimakasih telah bersamaku
 Jika aku boleh meminta padamu
 Temani aku setiap senja menyapaku
 Hiasi senyumku dengan kata-kata manismu
 Penaku telah berhenti dan dengan sigap tangan Dimas meraih diaryku, menarik pena dari tanganku dan membacanya dengan takjub. Dia seperti pangeran yang hanya dikirim khusus untukku, tapi bagaimana mungkin dia menjadi pangeranku kalau masih ada putri cantik yang menunggunya dalam istana penuh cinta.
 “Dew, aku ingin bermain puisi denganmu, boleh kan?” tanya Dimas yang seketika kujawab dengan anggukan. Aku melihat tangannuya mulai lincah memainkan pena dan membaut aku tak sabar ingin melihat hasil karyanya.
 Senyum manis dewiku
 Dewiku, cukuplah kesedihanmu
 Jangan kau larut dalam kesedihanmu
 Masih ada hari esok menunggumu
 Dengan seorang pangeran menemanimu
 Yang menghiasi ruang kosongmu
 
 Dimas sudah selesai menulisnya dan sudah berada ditanganku, tapi mendengar bisikannya air mataku kembali deras, bagaikan hujan yang tak mampu dikendalikan dan aku larut dalam kesedihan yang mendalam.
 “Dew, aku harus pergi.” Bisiknya yang membuat aku meneteskan rinai air mataku.
 Dimas telah pergi membawa puisi cinta yang kutuliskan untuknya, apakah mungkin suatu saat Dimas akan kembali dengan balasan puisinya yang membuat aku semakin jatuh cinta dan menginginkannya. Punggungnya masih terlihat dan suaraku tetap tak bisa keluar, aku ingin Dimas mendengarkan suaraku dan mengehentikan langkahnya untuk memelukku
 “Dim...Dim..., Dimaaaaas!” teriakku dan usahaku untuk bersuara telah membuat Dimas menoleh kepadaku, dia benar-benar kembali. Entah dengan tujuan apa dan untuk apa. Apakah dia masih ingin memberikan pelukan terakhirnya.
 “Dimas, jangan pergi.” Aku kembali berbicara diantara tangisanku.
 “Dew, kau bisa bersuara lagi. Aku tahu kau bukan wanita lemah.” ucapnya sambil memelukku.
 “Aku mencintaimu.” Ungkapku dan membuat pelukan Dimas semakin erat. Aku tak tahu apa yang dipikirkan olehnya. Apakah dia akan meneruskan langkahnya dan kembali pada tunangannya atau memilihku.
 
 THE END
Baca Terusannya »»  

Senin, 02 Januari 2012

Jomblonis Ironistis


Oleh: Tha Artha  


Mata Alex melotot. Gak henti-hentinya dia memandang body aduhai yang baru saja lewat di hadapannya.
                "Ckck... Aje gile tuh cewek, body-nya men!" ujarnya. Bola matanya mengekor setiap langkah sang cewek menawan.
                "Huss... Dosa! Itu dah punya orang, lu gak boleh ikut menikmati." Tio yang lagi nelen biji kacang, lalu menutup kedua mata sohibnya dengan telapak tangannya. Yaiyalah, jangan sampe kulit kacang juga ketelen, bisa masuk rumah sakit ntar.
                Dengan segera Alex menjauhkan tangan Tio dari wajahnya. "Apaan sih? Gak bisa liat orang seneng."
                "Ah, elu bisanya ngeliat doang. Kenalan dong!"
                Alex lalu terdiam. Selama ini dia emang gak pernah lagi berani kenalan sama cewek sejak ditolak sama Rosa. Bukan hanya itu, harga dirinya sebagai cowok cool juga udah diinjek-injek. Sebabnya, cewek incerannya sejak masih pake seragam merah-putih itu memajang surat cintanya di Mading SMP, dua tahun lalu. Sejak itulah, cowok rambut cepak ini udah gak berani lagi deket-deket kaum Hawa. Ngobrol dengan merekapun udah cukup bikin Alex keringetan. Ia hanya berani memandang, mengagumi, dan berkhayal. Parah!
                "Lebay, lu. Ngapain juga takut sama cewek? Lebih serem macan ketimbang cewek, tau!" Tio menepuk bahu sohibnya. Ketua OSIS inipun lalu melanjutkan kata-katanya, "Tenang sob, gua bantu 'nyembuhin' lu. Okey?"
                Tawaran emas itu gak langsung dijawab sama Alex. Ia berpikir lamaaa... Lamaaa banget. Sampe Tio jengah dan meninggalkannya sendiri.
***
                Saat jam istirahat, Tio ngajak Alex nongkrong di kantin sekolah. Setelah memesan dua mangkuk bakso dan dua gelas es teh manis, Tio memulai perannya sebagai terapis.
                "Elu sebagai cowok kudu punya modal. Minimal, modal pede buat sekedar tanya nama cewek yang lu taksir. Dari jaman nenek moyang kita, wanita selalu dijajah pria, jadi lu gak perlu takut dengan makhluk yang satu itu."
                Alex hanya mengangguk-anggukkan kepala sambil mencomot baksonya.            
                "Sekarang, lu lihat dia," Tio menunjuk seorang cewek berambut sebahu yang sedang duduk sendiri di pojok kantin. "Itu si Rene, adik kelas kita yang paling yahud. Coba kamu dekati mejanya dan kenalan. Sana!"
                Kunyahan bakso yang hampir masuk ke kerongkongan, tiba-tiba keluar dengat sendirinya. Alex tercekat. Dengan segera diminumnya segelas es teh sampai habis. Setelah itu, dipandangnya sahabat yang juga terapisnya dengan tatapan memohon keringanan, namun Tio berkeras tak mengubah titahnya.
                "Ini hal yang paling gampang, bro. Lu tinggal sapa dia, ulurin tangan, sebutin nama lu dan tanya nama dia. Beres!" Pikiran Alex semakin kalut saat mendengarnya. "Atau lu mau penyakit Jomblonis Ironistismu makin parah dan jadi banci setelah ini?"
                Dikatai seperti itu, gemuruh emosi Alex membesar. Dengan segera dia berdiri dan berjalan menuju meja Rene. Namun cara jalannya aneh, kaku seperti robot.
                "Hh...Hai," dia mencoba mengeluarkan suara tergagahnya. Sial, kerja pita suaranya gemetar tak karuan hingga keluarlah suara parau. "Gue Alex. Kalau nama lu siapa?" tangan kanannya lalu terulur perlahan. Alex kemudian menelan ludah dan memejamkan matanya.
                Gayung bersambut. Uluran tangannya balas dijabat. Tapi, tunggu dulu! Alex merasakan sebuah tangan kasar yang menggoyang jabatan tangannya, bukan tangan mungil nan halus mulus yang seharusnya menjadi milik Rene.
                "Gua Anton," suara berat itu kemudian membuat Alex lekas membuka matanya. Ia terkejut saat melihat sosok kakak kelas di hadapannya. "Dan ini cewek gua. Lo jangan macem-macem!"
                Muka garang di hadapannya menyiutkan nyali. Alex cengingisan salting, hatinya ketar-ketir membayangkan resiko bonyok sepulang sekolah.
                "Ampun, bang. Kesalahan teknis!" diapun lalu ngancir menuju halaman sekolah.
                Tio kemudian menyusul sahabatnya. Ia tertawa sambil mengacak-acak rambut Alex.
                "Gue salut ma lu, bro!" Diacungkannya dua jempol. Tak puas, dibukanya pula sepatu di kaki kanan, melepas kaos kaki, mengangkat telapak kakinya setara dua jempolnya, dan menggerak-gerakkan jempol kaki baunya. "Berarti lu masih ada harapan. Muka jelek Anton aja laku, apalagi elu, sahabat gue yang kece?"
                "Uhff..." serta-merta Alex menutup kedua lubang hidungnya. "Geblek! Bau, tau!"
***
                Esoknya, pelajaran pertama sudah Alex praktekkan dengan baik. Walau dengan bercucuran keringat, cowok bertubuh tinggi tegap itu berhasil berkenalan langsung dengan tiga adik kelasnya. Yang paling menarik adalah Sasa, siswi kelas X-4. Tutur kata dan pembawaannya yang kalem, sukses merebut hati Alex. Dengan berani, dia lalu mengajak Sasa jalan bareng pada nanti malam. Si gadis manis berkuncir itupun menjawab dengan senyuman manis yang langsung melemahkan kerja sistem otak Alex.
                Hatinya benar-benar senang, namun kalang-kabut. Sekedar berkeliling kota sih oke, tapi nantinya disela dengan obrolan apa? Alex sadar dengan kemampuan lingualnya yang pas-pasan. Merayu nyokap untuk menambah uang jajannya saja gagal, bagaimana caranya merayu cewek buat dijadikan pacar? Di kala panik melanda, Alex segera menghubungi terapisnya.
                "Dimulai dengan obrolan santai aja. Ceritain aja sapa diri lu, keluarga, hobi, aktivitas, apapun lah. Saling mengenal dulu, istilahnya pedekate gitu," Tio dengan baiknya membagi tips & trick tentang cewek sekali lagi. "Jangan asal langsung nembak, yang ada malah ilfil jadinya."
                Alex menganguk-anguk. Ia lalu merancang cerita apa saja yang nantinya akan dia bagi bersama Sasa. Simple, menarik, dan jangan sampai membuat jenuh. Karena jikalau gadis itu sampai mengantuk karena bosan, Alex tak kan sanggup membopong tubuhnya sampai rumah orang tua Sasa. Selain itu, beragam pertanyaan juga telah disiapkan. Pertanyaan singkat tanpa kesan mengintrogasi.
                Setelah bekal percakapan dirasa cukup, sore harinya Alex memeriksa persediaan pakaian di lemarinya. Malam nanti, dia harus bisa tampil mengesankan di hadapan Sasa. Walau nanti belum dapat dikatakan kencan pertama, Alex yang memukau dapat memperoleh nilai lebih di mata Sasa. Maka, dipilihlah kemeja merah bergaris hitam yang dipadupadankan dengan jins birunya. Mantap!
***
                Hari demi hari berlalu. Proses pedekate Alex berjalan sempurna. Hatinya sudah benar-benar terpikat pada Sasa, dan kini dia tak lagi gemetaran bila berada di dekat wanita. Program terapi dari Tio sukses besar. Kemungkinan, Tio bisa membuka bisnis "Penyembuh Trauma pada Wanita" setelah ini.
                Tepat pada hari ulang tahun Sasa, Alex memberikan kado berupa kalung cantik berliontin AS. Seusai sesi tiup lilin, Alex nekad nembak gadis manis itu di depan umum. Sorak-sorai dari tamu undangan sempat membuatnya gugup, namun kini Alex mampu mengendalikan perasaannya. Sasa yang mengenakan dress putih seperti peri, terpana melihat cowok cepak itu berlutut dihadapannya. Dan akhirnya, mereka resmi jadian.
                "Gue makin salut sama elu, bro," ujar Tio sepulangnya mereka dari pesta semalamnya Putri Sasa. "Gak nyangka, ternyata elu lebih berani ketimbang gue."
                Alex menyerngitkan dahinya, mencerna tiap kata yang terucap dari bibir sahabatnya. "Maksud lu?"
                "Yah..." Tio terlihat ragu-ragu melanjutkan perkataannya. "Gue sebenarnya juga pengidap Jomblonis Ironistis." Mata Alex terbelalak tak percaya. Tio melanjutkan, "Sama kayak lu, gue juga pernah ditolak cewek. Gak cuma sekali, tapi berulang kali. Terakhir, setahun yang lalu. Pelampiasannya, gue sibukin diri aja di OSIS. Gue kapok nembak-nembak lagi."
                "Tapi lu bisa terapin apa yang elu bilang ke gue."
                "Haha..." tawa Tio tiba-tiba meledak. "Gue rasa, hidup gue dah indah. Walau gue jomblo, tapi gue masih punya banyak temen. Dan elu, temen baik gue yang paling sip! Keren! Gak nyangka akhirnya nasib buruk lu berakhir juga."
                Alex hanya tersenyum melihat raut wajah sahabatnya. Pantas saja dia begitu bersemangat membantunya, ternyata Tio juga pengidap penyakit yang sama. Kini dia telah sembuh dan berniat menyembuhkan sang Ketua OSIS pula. Dapatkah?
***

                Dua bulan telah berlalu. Biasanya, masa pacaran yang seumur jagung begini adalah masa terindah. Selain dapat lebih saling mengenal, cinta yang mampu merubah tahi kucing berasa coklatpun semakin manis dikecap. Namun nyatanya, hukum alam itu tak berlaku pada Alex. Ia telah memutuskan hubungannya dengan Sasa semalam.
                "Lho?"
                "Gue eneg!" Alex mendengus kesal. "Bayangin, gue berasa jadi kacung ketimbang cowoknya. Minta anter ke mana-mana gak peduli waktu. Emangnya gue hidup sendirian, apa? Gue juga masih punya nyokap yang mesti dianter ke pasar biar gue bisa makan masakannya. Lah, ini malah dilarang dan kudu nganterin dia ke salon, alamat gue haram makan di rumah. Belum lagi, gue kudu bayarin biaya di salon, segunung belanjaan dia di mall dan berbagai sogokan untuk kedua orang tuanya biar dibolehin bawa anaknya jalan. Bangkrut mental-fisik, gue!"
                Tio geleng-geleng kepala mendengar kisah sahabatnya. Sebelumnya dia tak menyangka jika punya cewek itu ribet. Kemauan mereka, kaum Hawa, memang banyak dan aneh-aneh. Harus pintar mengakali mereka agar hatinya senang selalu sehingga berdampak pada wajah yang menarik dipandang pula. Tio membayangkan wajah Sasa yang ngambek jika keinginannya tak dituruti sahabatnya. Ih, pasti seram! Siapa yang kuat menatap raut wajah wanita saat ngambek
                "Jadi jomblo ternyata lebih enak, bebas!" Tio lalu merangkul Alex yang berwajah lecek. "Tapi jangan Jomblonis Ironistis, bro. Kita harus mengisi masa muda kita sebaik-baiknya. Masa indah ini tak kan terulang lagi. Cewek? Nanti saja. Kalau kita dah jadi sukses, pasti mereka mendekat dengan sendirinya. Yakinlah itu!"
                Alex mendongakkan kepala, menatap senyum Tio. Ia kemudian ikut menyunggingkan senyum di wajahnya. Ya, Alex sadar, dirinya masih muda. Tak sepatutnya lemas tak bergairah hidup hanya karena wanita. Bersama Tio sahabatnya, diapun memulai aktivitasnya kembali, pelajar SMA yang berbakat
Baca Terusannya »»