Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Minggu, 08 Januari 2012

If you can write

"If you can speak what you will never hear, if you can write what you will never read, you have done rare things. - Henry David Thoreau
Baca Terusannya »»  

Sabtu, 07 Januari 2012

A Great Book

"A great book should leave you with many experiences, and slightly exhausted at the end. You live several lives while reading it."  (William Styron)
Baca Terusannya »»  

Kata Mereka tentang IWU (Indonesian Writers University)



1.    IWU itu tempat aku pertama kali bisa mengembangkan minatku di bidang sastra. (Josephine Octavia , Jakarta)

2.    Buat saya IWU adalah kampus pertama yg saya masuki yg langsung bikin sy jatuh cinta ♥, hehe....! (Poetry Karatan, Jakarta)


3.    IWU memberikan saya pengetahuan-pengetahuan tentang kepenulisan. Menambah teman dan seperti berada saat di sekolah. (Luneta Aurelia Fatma, Depok)

4.    IWU itu perjalinan erat dalam segala hal. (Adrian Monteque)


5.    kesan pertama IWU, begitu mempesona, selanjutnya...? Seperti magnet: lagi..lagi...mau lagi. (Unis Sagena, Selangor-Malaysia)

6.    Senang! Itulah kata pertama yang terlintas di benak saya saat ditanyakan tentang kesan belajar di IWU. Saya yang memulai menulis secara otodidak dan "seenak-gue", sangat terbantu dengan postingan materi yang diberikan. EYD yang masih berantakan, diksi yang terlalu sederhana serta alur cerita yang tidak selaras dapat segera saya perbaiki setelah mendapat "pencerahan" dari sensei serta teman2 di IWU. Selain itu, mood menulis yang menurun juga dapat terpacu kembali saat sensei dan teman2 terus memberikan dorongan semangat plus komentar positif. Senangnya.... Tidak ada kesenjangan antara "senior" dan "junior" serta keramahan sensei yang hobi mention, membuat suasana di IWU semakin akrab, layaknya saudara sekandung padahal kami semua tinggal berjauhan.  Belajar di IWU, perlahan-lahan impian menjadi nyata. (Tha Artha, Surabaya)


7.    IWU Pembimbingnya kesan pertama kenal sangat baik ramah dan bersahabat kak syifa dan kak suyatna pamungkas dan sahabat lainya. IWU Penuh persahabatan baik,saling berbagi seperti keluarga canda tawa dan berbagi ilmu pengetahuan. (Yuni Farikh Araqan, Taiwan)

8.    IWU sangat WOW dan sesuatu, selain di sni dpt mendapat ilmu baru, saya juga mndapat pengalaman baru juga skaligus dapat kembali membangkitkan nyawa saya yang pernah redup (haduh alay deh ah!)  Di sini juga bisa bertemu sama teman-teman baru, adik baru,kakak baru, keluarga baru, semuanya serba baru tapi penuh kehangatan. Pokoknya IWU  the best. Seneng bisa belajar di sini sekaligus bisa punya keluarga baru :) luph u my campus, luph my family, semoga makin wow! Amin (Yetik Afriana, Surabaya)


9.    IWU emang lbh bersahabat dan welcome sm IWU addictnya.  (Khoirunnisa Dewi Suni, Bandung)


‎Suyatna Pamungkas,,,, belum lama kenal dan mengetahuin nama ini. sosok muda yang kreatif. disaat sebagian orang enggan membagi ilmu,, ia malah membagi secara gratis dan tak henti memberi semangat menulis bagi semua. IWU banyak memberi masukan dan cara menulis yang baik,,, semoga semua ga ada yang sia-sia.. Lanjutkan IWU khususnya kepada @suyatna pamungkas.....Thanks (Rifat Khan, NTB)


Baca Terusannya »»  

DEARFRENZ WRITING COMPETITION FOR VALENTINE With IWU (Indonesian Writers University)







Dalam rangka menyambut hari Valentine di bulan Februari, yuk ikutan “DF Writing Competition For Valentine!”
*25 Naskah cerpen yang terpilih oleh panitia akan diterbitkan menjadi buku antologi cerpen.

Berikut syarat-syaratnya :
1. Tidak ada batas umur peserta.
2. Tema cerpen : "Kasih Sayang"
3. Panjang naskah maksimal 9100 karakter termasuk spasi, atau 1400 kata dengan double line spacing atau sekitar 6-8 halaman kuarto. Menggunakan Font Times New Roman 12. Margin 4433 (atas dan kiri 4, kanan dan bawah 3).
4.  Memiliki akun Dearfrenz  (www.dearfrenz.com) dan bergabung di  Grup Indonesian Writers University di Dearfrenz (http://www.dearfrenz.com/group/146) serta mengajak dan mereferensikan info lomba ini ke catatan masing-masing akun facebook, minimal 20 teman.
5.  Menyertakan foto, biodata Penulis (termasuk akun Dearfrenz dan Facebook), profil singkat penulis, minimal 100 kata.
6. Peserta hanya diijinkan mengirim 1 naskah terbaik.
7.  Hak untuk memuat naskah-naskah cerpen di media online ada pada Indonesian Writer University dan Dearfrenz.
8. Panitia berhak mengganti judul dan menyunting tanpa mengubah isi.
9. Keputusan dewan juri mengikat. Tidak dapat diganggu gugat dan tidak ada surat menyurat.
 10. Lomba ini tertutup untuk karyawan dan segenap staff Indonesian Writer University.
11. Naskah di kirim ke email: suyatna_pamungkas@dearfrenz.com dengan subjek email:  DFWC_Judul Cerpen_Nama Penulis.
12. Naskah paling lambat diterima panitia tanggal 31 Januari 2012 pukul 00:00 WIB
13. Naskah yang dikirim merupakan karya asli dan belum pernah dipublikasikan.
Pemenang akan diumumkan pada tanggal 14 Februari 2012, di http://www.dearfrenz.com/ dan IWU

  
Pemenang I : Rp 200.000,-
Pemenang II : Rp 150.000,-
Pemenang III  :  Rp100.000,-

Pemenang I, II dan III akan mendapatkan buku antologi DF Writing Competition For Valentine + 500 Zpoint.

5 Pemenang Hadiah hiburan mendapatkan buku antologi DF Writing Competition For Valentine + 300 Zpoint.
Baca Terusannya »»  

Jumat, 06 Januari 2012

Writing Question: Apa yang akan Kamu Tulis?

Oleh Suyatna Pamungkas

  
Menentukan research question dalam penelitian ilmiah merupakan tahapan yang sangat penting, saking pentingya seringkali peneliti dibuat “keriting” memikirkan satu pertanyaan untuk penelitiannya ini. Baik saat akan menulis paper, makalah, skripsi, tesis, atau bahkan disertasi, selalu yang pertama harus digodok dengan matang adalah research question. Secara harfiah research question berarti "pertanyaan penelitan", menyatakan hal apa yang akan dipermasalahkan dalam penelitian. Research question akan sangat menentukan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian, juga terkait dengan manfaat penelitian. Lagi, research question inilah yang akan digunakan sebagai dasar dalam melakukan penetian, sesuatu yang sangat fundamental. 


            Lalu apa kaitan research question dengan penulisan fiksi?


            Jika dalam penelitian ilmiah dikenal istilah research question, dalam penulisan fiksi juga dikenal istilah writing question (sebutan ini adalah teori dari Suyatna Pamungkas dalam dunia kepenulisan fiksi, dengan mengadopsi yang ada pada penelitian ilmiah). Secara harfiah, writing question bisa diartikan “pertanyaan kepenulisan”. Maksudnya adalah, sebelum menulis fiksi –apalagi fiksi panjang –sebelumnya kita bertanya kepada diri sendiri: apa yang mau ditulis? Seperti halnya sinopsis, writing question ini juga dapat digunakan sebagai alat untuk berpijak, menentukan sesuatu yang akan ditulis. Benar sekali, sekali lagi saya tegaskan bahwa fiksi juga mengenal writing question seperti halnya penelitian ilmiah yang mengenal research question.



            Research question ini akan tampak saat tahap menulis sinopsis, jauh sebelum menulis sinopsis. Seperti yang saya bilang pada pembahasan mengenai sinopsis cerita, beberapa kesempatan yang lalu, bahwa produser biasanya akan membaca sekilas sebuah sinopsis lantas memutuskan cerita tersebut menarik dan layak untuk ditayangkan atau tidak. Ya benar, sangat sekilas dan cepat. Tentu Kawan masih ingat soal premis cerita yang pernah kita bahas pada pelajaran terdahulu, bahwa setelah menentukan tema kita akan mengembangkan tema tersebut menjadi premis cerita berupa kalimat utuh. Inilah yang sesungguhnya dicari oleh produser (dalam industri film) dan redaktur (dalam industri penerbitan).



            Ya benar, para produser dan redaktur penerbitan biasanya menggunakan metode ini, di tengah kesibukan yang super 24 jam, produser dan redaktur hanya mempunyai waktu sekitar lima menit untuk membaca tawaran skenario/buku yang diajukan penulis. Dengan waktu yang super singkat tersebut, produser/redaktur akan mencari "masalah" yang sedang ditawarkan.   Seseorang sahabat yang sudah 20 tahun bersahabat dengan saya, menyuruh saya menulis novel tentang perjalanan hidup kami. Apa yang menarik? Di mana-mana kisah persahabatan berlangsung "sama": bertengkar, berselisih, bersahabat, nakal, bolos sekolah, bohongin orang tua, berpetualang, dsb. Lalu apa yang membedakan dengan kisah-kisah persahabatan yang lain? Kisah persahabatan yang dialami bukan oleh saya dan oleh teman saya tersebut? Sekali lagi, apa yang menarik dari sana?



            Ada lagi cerita berikutnya, seorang gadis yang, yah, sebutlah berpacaran dengan saya selama delapan tahun, menyuruh saya menulis cerita dengan judul "sewindu" saat kami akan memperingati hari ulang tahun jadian kami. Apa yang harus dipersoalkan, tanya saya dalam hati. Iya benar, selama pacaran kami melalui proses yang sangat panjang, yang jika ditulis dalam sebuah buku maka jumlah halamannya bisa beribu-ribu. Namun, di mana yang menarik? Apa yang ingin saya permasalahkan? Apa yang ingin ditonjolkan? Dan untuk apa, memberi manfaat apa jika cerita tersebut ditulis?



            Konsep ini menjadi penting karena dalam kepenulisan juga akan dituntut “pertanggung jawaban” penulis. Tentu, sebelum menulis penulis sudah terpikirkan, untuk tujuan apa dirinya menulis? Ada penulis yang menulis dengan tujuan menghasilkan uang, silakan saja. Ada penulis yang menulis dengan tujuan untuk eksistensi diri dalam literasi, juga boleh-boleh saja. Atau barangkali penulis Pramoedya sebelum menulis telah menentukan tujuan penulisan, untuk mengangkat citra pribumi orang-orang Indonesia, misalnya. Raditya Dika menulis Kambing Jantan, mungkin bermula dari iseng belaka, namun dari hatinya bisa kita tebak bahwa dirinya ingin berbagi sesuatu yang sangat lucu, gokil, dan seterusnya. Ada juga penulis yang menulis dengan tujuan personal lainnya. Silakan, itu tujuan dan hak masing-masing penulis.



            Nah, kaitan dengan tujuan menulis, pentingnya writing question adalah menentukan dan membatasi masalah yang ingin disampaikan, mengesampingkan pembahasan yang dirasa tidak penting, juga memberi manfaat yang lebih bagi para pembacanya. Dengan menuliskan writing question, penulis dapat melihat:

1. konsep awal cerita

2. kekuatan cerita

3. gambaran cerita

4. selling point tulisan



            Keempat-empat point di atas jelas sangat penting, meskipun ini sangat teoritis dan tidak semua penulis menempuh jalan ini, namun setidaknya dengan melihat kembali apa yang terkandung dan meninjau manfaat adanya writing question ini akan menjadi satu tips tersendiri bagi Anda yang baru mau terjun ke dunia kepenulisan atau para penulis yang sulit produktif karena terkendala sesuatu yang sangat teknis. Nah, inilah salah satu strategi menangani masalah atau kendala teknis tersebut.  Dengan mencari dan kemudian menuliskan writing question terlebih dahulu –yang kemudian nanti akan dikembangkan sebagai sinopsis cerita– akan terlihat keuntungan berikut:



            (1) dapat melihat konsep awal cerita dengan jarak yang sangat dekat: tentu saja ini memudahkan kita untuk melacak hal-hal apa saja yang harus dikuasai, buku-buku bacaan, tulisan yang segenre, atau riset yang diperlukan untuk memperkuat tulisan kita.



            (2) dapat melihat kekuatan sebuah cerita. Dengan adanya writing question kita tidak perlu takut cerita kita tidak bisa berkembang dengan baik di tengah penulisan. Kita telah dapat membaca peta, ke mana dan akan seperti apa tokoh kita nantinya. Nah, dengan mengetahui writing question ini –mohon dicatat –kita akan memiliki ancang-ancang yang jelas untuk menentukan klimaks/turning point dari sebuah cerita. Jika writing question-nya adalah mengapa X selalu Y (contoh: mengapa AZAM selalu SABAR), maka klimaks yang harus kita ekpose dalam tulisan adalah X selalu Y karena Z (missal: AZAM selalu SABAR karena DIA PERCAYA KEKUATAN BERTASBIH).



            Nah, di bagian inilah yang harus dimaksimalkan. Bahwa dengan mengetahui writing question berarti tahu bagian mana yang akan dioptimalkan dalam kepenulisan, demi mengaduk-aduk perasaan pembaca. Sedih. Tertawa. Haru. Riang gembira. Dan sebagainya.



            Saya contohkan saja Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburahman El Shirazy. Meski saya tidak tahu apakah penulis menuliskan writing question terlebih dahulu, namun jika saya memposisikan diri sebagai kreator, saya akan memperoleh kekuatan tulisan pada sisi “perjuangan Azam untuk bersabar ketika cintanya bertepuk sebelah tangan”.



            (3) Gambaran cerita terlihat jelas dari writing question. Dengan demikian kita tidak akan takut cerita kita mengalami overlapping, dengan membaca satu kali saja masalah kepenulisan yang akan disuguhkan kita telah dapat menghindari pelebaran cerita yang cenderung tak terkontrol. Saat menulis halaman pertama tidak akan terasa, namun setelah puluhan halaman ditulis, tokoh dan setting seperti bergerak sendiri, menentang tuannya, menentang si kreator. Nah dengan melihat writing question dan dibantu peta kepenulisan yakni sinopsis, dengan sangat mudah akan terlihat batas-batas masalah yang harus dan tidak boleh ditulis. Cerita kita pun akhirnya tidak melebar ke mana-mana dan fokus pada satu permasalahan utama. 



            (4) Mengetahui selling point tulisan. Dalam pengiriman naskah novel ke penerbit, redaksi akan selalu bertanya selling point dari tulisan yang sedang ditawarkan. Nah kita diuntungkan karena telah menulis writing question sebelum menulis novel. Saat ditanya redaktur soal selling point dan pangsa pasar, well kita tak akan kesulitan menjawab sebab dari membaca writing question yang sudah kita buat semuanya akan sangat terlihat di mana pangsa pasar dan selling point tulisan kita. Apakah tulisan religi, tulisan humor, tulisan perenungan, inspiratif, termasuk lama atau tulisan tema baru, semua akan tampak jelas di sini.                  





SEMPITKAN!!!

Sering kita terjebak bahwa novel merupakan perjalan hidup dari lahir sampai si tokoh mati, sebutlah begitu. Ambillah Laskar Pelangi, Andrea Hirata menyempitkan perjalanan hidupnya dalam sebuah writing question atau masalah, yakni "perjuangan bersekolah dengan segala keterbatasan". Ini sangat berpengaruh terhadap simpulan, atau dalam fiksi yang dikenal dengan istilah amanat. tentu saja, amanat ini sangat penting, mengingat unsur ini juga masuk ke dalam salah satu unsur intrinsik cerita rekaan. Ibarat menentukan titik awal, menentukan masalah merupakan sarana untuk menuju titik akhir, titik Z, sebutlah demikian. Bahwa novel bukan merupakan perjalanan hidup seseorang tokoh fiktif, yang di dalamnya hanya ada berisi biografi catatan perjalanan yang tidak difokuskan pada satu permasalahan; novel merupakan satu premis cerita yang dikembangkan menjadi kompleksitas penyampaian.



            Di atas telah saya contohkan dua kasus kepenulisan, yang satu kisah seorang sahabat yang telah 20 tahun bersahabat dengan saya, yang kedua kisah asmara satu windu. Pertanyaan menggelitiknya: apa yang menarik dari kisah sepanjang itu? Nah melalui writing question ini kita bisa menyempitkan kompleksitas yang ada dalam durasi waktu yang lama itu. Misalkan saja, dari tema persahabatan itu saya mengambil writing question begini: kenapa aku dan sahabatku selalu bertengkar soal cewek tomboy? Bagi sahabatku tomboy itu cantik, bagiku cantik itu feminim, pakai rok, tidak suka mengenakan jeans, rambut panjang, dsb. Ini jika dituliskan menjadi premis cerita akan menjadi begini: kisah persahabatan dua orang laki-laki yang sedang berlomba mengejar gadis tomboy (anggaplah pada akhirnya si “aku” ini tertarik tantangan sahabat untuk berebut pacar dengannya, dan gadis tersebut adalah seorang yang tomboy).



            Untuk kasus cinta yang satu windu, silakan untuk latihan Kawan-kawan semuanya saja. silakan coba tentukan writing question apa yang menarik untuk disuguhkan dan dikembangkan menjadi cerita?



            Jika boleh saya menyarankan, laluilah tahapan ini. Bagi saya, menulis fiksi memang harus –sekali lagi saya tegaskan, ini bagi saya– melalui tahapan ini. Namun demikian, tidak semua penulis melakukan tahapan ini. Pada tahapan ini. Menulisan cerita dengan diawali tahap ini.

> perenungan

> pengendapan

> tulis dalam kalimat pendek

> jadikan satu premis cerita



            Writing question  kemudian dilanjutkan dengan:

> kaitkan apa yang akan ditulis

> tulis sinopsis

> menjaga konsistensi

> jadilah novel



Demikian pelajaran menulis yang dapat saya sampaikan, akhirnya dapat saya ambil benang merah dari pelajaran kita pada kesempatan ini, bahwa pada dasarnya semua fenomena yang terjadi di sekitar kita (di dalam diri maupun di luar diri) dapat ditulis menjadi sebuah cerita fiksi yang menarik. Hanya saja, kita perlu membatasi masalah yang akan kita angkat dalam cerita fiksi tersebut. Menemukan, merumuskan, untuk kemudian menuliskan writing question adalah salah satu langkah kepenulisan yang menurut saya patut dicoba diaplikasikan dalam “calon novel” kita.



Salam karya.
Baca Terusannya »»  

Rabu, 04 Januari 2012

Privat Course

Now Open: Online Writing Programme of Indonesian Writers University !!





Verba Volant Scripta Manent - yang diucapkan akan lesap hilang, yang ditulis akan abadi


Mau Belajar Nulis? Mau terkenal seperti J.K. Rowling atau Andrea Hirata? Tapi terkendala waktu untuk belajar? 

Ikut saja program pelatihan nulis dari Indonesian Writers University via online


1. Tidak perlu hadir di kelas
2. Dapat diakses dari mana saja
3. Tanpa meninggalkan rutinitas lain
4. Diajar langsung oleh pengajar dengan basic ilmu sastra, juga menekuni dunia tulis menulis sudah puluhan tahun


Dapatkan keuntungan lain, seperti:
1. Jadwal belajar sangat fleksibel, disesuaikan dengan kesibukan mahasiswa
2. Ada garansi uang kembali 
3. Tidak ada ujian formal, mahasiswa dinyatakan lulus bila telah memiliki satu buku, minimal buku antologi
4. Alumni akan mendapatkan sertifikat resmi dari Indonesian Writers University
5. Ruang konsultasi yang sangat luas melalui email, chating, forum, milis, juga member area khusus
6. Ada layanan seumur hidup, dimana mahasiwa dapat berkonsultasi kepenulisan juga menjalin link dengan penulis senior
7. Ada tawaran menarik bila berhasil mengajak teman untuk bergabung bersama Indonesian Writers University


Hubungi:
Sekretariat  "Anak Negeri"
Griya Satria Indah Blok L No 22
Purwokerto Utara
Jawa Tengah 53125
email : iwu.berkarya@yahoo.com
sms center: 083878020008
Baca Terusannya »»  

Manusia Setengah Hari


 
 Oleh: Runy Ginevla
 
 Manusia setengah hari, itulah sebutan yang di berikan orang – orang kepadaku. Aku senang menerimanya. Ya, memang seperti inilah aku. Manusia yang hanya hidup setengah hari. Maksudku, setengah hari hidup sebagai laki – laki. Dan setengah hari lagi sebagai perempuan. Siang hari aku bekerja sebagai seorang lelaki tulen, dan malam hari aku bekerja sebagai wanita tulen. Aku sangat benci jika orang – orang menyebutku ‘banci’. Karena sebutan itu hanya untuk pecundang.
 
 Oke, perkenalkan namaku. Namaku kalau siang Anton, kalau malam Anti. Tetapi nama asliku Slamet. (*maaf bila ada kesamaan nama). Pagi sampai siang hari aku bekerja sebagai penjaja koran di kios milik temanku dan di selingi dengan mengamen. Dan di malam hari aku bekerja sebagai wanita penghibur di sebuah klub malam. Pekerjaan ini kulakukan dengan tidak ikhlas memang. Karena kebutuhan hidup yang memaksaku untuk mengais – ngais harta di tumpukan sampah sekalipun.
 
                 Terkadang ketika aku sedang bekerja sebagai ‘wanita penghibur’, aku kerap mendapatkan pelecehan. Tentu saja dari lelaki – lelaki keparat itu. Jijik aku kepada mereka. Begini – begini juga aku masih normal. Meski aku bekerja untuk melayani mereka, tetapi aku tak pernah mau di ajak mereka tidur. Aku cuma menemani mereka untuk minum. Aku senang, karena minuman beralkohol itu bisa membuatku tenang. Setidaknya untuk sesaat aku terbebas dari himpitan ekonomi.
 
                 Aku mengerjakan semua pekerjaan ini hanya untuk kekasihku. Aku bermaksud meminangnya. Tetapi orangtuanya tidak setuju jika anaknya bersanding denganku. Dikarenakan aku miskin dan pengangguran. Aku tak tahu lagi mesti bekerja sebagai apa di kota perantauanku ini. Dengan berbekal ijazah SMPku, rasanya tak mungkin jika aku di terima bekerja di gedung – gedung mewah itu. Aku berharap, kekasihku itu tak melihatku bekerja seperti ini. Aku berjanji, setelah uang tabunganku cukup, aku akan membangun usaha sendiri. Mungkin restoran.
 
                 Pernah aku mendengar kabar bahwa kekasihku itu akan di jodohkan dengan anak dari sahabat orangtuanya yang merantau ke Jakarta. Aku berusaha untuk mencari informasi mengenai lelaki pilihan orangtua kekasihku. Setalah dapat, aku minta di pertemukan dengannya. Dan setelah kami bertemu, aku dengan sadis membunuhnya dengan mencekiknya lalu setelah itu ku cabik – cabik wajahnya dengan pisau. Aku tak kan rela melihat dia duduk dengan kekasihku di pelaminan.
 
                 Aku memang punya sifat aneh yang di sebut psikopat. Tak dapat di hitung dengan jari jumlah orang yang sudah kubunuh. Aku lebih suka membunuh mereka dengan mencekik leher mereka. Karena dengan begitu mereka akan merasakan sakitnya tak bisa bernafas. Sakitnya ketika seluruh otot mereka mengejang. Sakitnya ketika malaikat maut menarik nyawa mereka perlahan – lahan. Dan setelah itu, aku potong – potong bagian tubuh mereka. Lebih seringnya sih tangan. Lalu ku kuburkan mereka di belakang kostanku. Tak ada yang tahu hal itu. Terkadang aku juga menyimpan beberapa potongan dari tubuh korbanku. Mungkin saja aku membutuhkannya untuk memngisi perutku ketika dompetku sedang kosong. Tak kalah enak rasanya dengan daging ayam.
 
                 Banyak suka duka yang ku kecup dari pekerjaanku sebagai ‘wanita penghibur’ ini. Dukanya tentu saja pelecehan – pelecehan yang ku dapat dari ‘bangsat – bangsat’ itu (*upss). Dan sukanya, aku bisa melampiaskan kekesalanku kepada mereka yang kerap mengajakku untuk ‘bermain’ bersama. Aku suka melihat mulut mereka mengeluarkan busa setelah meminum ramuanku. Aku senang melihat wajah putih pucat tak bernyawa mereka. Haha… mereka pantas mendapatkannya.
 
                 Ketika aku bekerja sebagai ‘wanita penghibur’, aku selalu membawa ramuanku. Karena tak mungkin kan aku membunuh mereka dengan pisau di depan umum. Meskipun pisau selalu ada di dalam tasku. Bagiku, manusia – manusia seperti itu patut di binasakan dari muka bumi ini. Aku hidup di dunia, tak ada yang peduli. Sahabatkupun cuma satu. Tengku namanya. Dia sangat baik kepadaku. Sering memberikanku pinjaman uang dan terkadang mengajakku makan – makan.
 
    “Ti, lo temenin gue malam ini ya. Gue mau curhat nih sama elo.”
    “Curhat apaan, Ku ?”
    “Adalah. Pokoknya malam ini gue mau minum ampe butung. Gue baru aja di putus pacar gue.”
    “Syukur deh. Tuh cewek kan emang nggak pantes buat lo. Mending ama Mince tuh. Haha..”
    “Ah… Mince mah stok lama. Haha…”
 
                 Sering aku mendengar dari teman – temanku kalau Tengku itu ‘gay’. Tapi aku tak percaya. Aku kenal baik dengannya. Tak mungkin Tengku yang playboy itu ‘gay’. Lagipula, aku tak pernah melihatnya membaca majalah cowok atau bermesran dengan cowok.
 
                 Malam itu, ku temani Tengku bersenang – senang di klub tempatku bekerja. Malam ini malam minggu. Pantaslah jika klub penuh banget. Tapi malam ini, aku prioritaskan untuk menemani sahabatku, Tengku. Kami mengikuti musik yang di mainkan oleh DJ. Lampu kerlap – kerlip menyilaukan mata kami. Dengan penerangan yang remang – remang, aku masih bisa melihat segerombolan besar manusia menari – nari di bagian tengah ruangan klub ini yang memang di siapkan untuk tempat menari. Beberapa pria duduk di sofa yang ada di sudut ruangan sambil bercumbu dengan 2 – 5 orang wanita. Benar – benar memuakkan.
 
    “Anti, lo tahu nggak sih ? gue tuh sayaaaang banget sama elo.”ujar Tengku tiba – tiba dengan mulut berbau alkohol.
 
 Mungkin sekarang dia benar – benar mabuk. Ku tahan badannya yang agak limbung agar tidak terjatuh. Dengan botol wine di tangan kanannya, dia berusaha memelukku. Awalnya aku biasa aja. Karena aku tahu, Tengku sedang bersedih saat ini. Tapi lama kelamaan, Tengku mulai menggerayangi tubuhku. Dia kecup lenganku. Ihh… aku semakin risih saja. Berkali – kali ku coba menjauhkan tubuhnya dari tubuhku. Tapi dia malah memberontak. Sampai – sampai ku tampar wajahnya untuk menyadarkannya. Tapi dia malah semakin brutal.
 
 Akhirnya, dengan berat hati ku keluarkan pisau dari dalam tas yang ku geletakkan di sampingku dan ku arahkan ke arahnya. Dia kaget, dan mundur menjauhiku. Semua orang menoleh ke arahku. Beberapa bodyguard mulai menyergapku. Tapi mereka kalah, karena aku memutar – mutar pisauku ke arah mereka hingga menyobek perut mereka. Hening semuanya. Tampak wajah – wajah ketakutan menatapku. Setelah ini aku berencana untuk lari secepat – cepatnya meninggalkan tempat itu.
 Dengan nafas terengah – engah, aku bangkit dari dudukku dan bersiap – siap untuk mengambil langkah seribu. Beberapa saat hening, kemudian ketika tepat langkahku di mulai untuk meninggalkan tempat terkutuk itu, Tengku menarik tanganku dan menarikku ke dalam pelukannya. Aku sudah tak tahan lagi. Ku tusuk dadanya dengan pisauku. Tepat di jantungnya. Sekarang tak ada lagi yang berani kepadaku. Mereka semua mundur menjauhiku. Setelah ku lihat wajah Tengku yang mulai memucat, dan darah segar mengucur dari dadanya. Aku menangis.
 
    “Tengku, maafin aku.”ratapku sambil memeluk tubuh lemahnya. Dia tersenyum menatapku. Meski dengan raut muka kesakitan. Dengan mata yang hamper terpejam, dia kecup keningku. Ihh… rasa jijik kembali menggerayangiku.
 
                 Beberapa orang mulai berlari ke arahku dengan senjata masing – masing. Mereka menggunakan kesempatan ketika aku sedang lengah ini. Tapi aku tak kurang akal, segera ku raih botol wine yang ada di atas meja. Lalu ku arahkan ke mereka. Botol itupun pecah membentur lantai. Lalu ku ambil korek gas di atas meja, menyalakan apinya, lalu ku lempar korek itu ke arah lantai yang basah oleh wine itu.
 
    “Letakkan sejata kalian !!”teriakku kepada semua orang. Semua menurut, lalu ku raih dua buah pistol yang di serahkan oleh bodyguard di klub itu. Ku tembakkan pelurunya ke arah rak – rak minuman beralkohol yang terletak di samping tempatku duduk. Tak lama, klubpun meledak. Aku beruntung, masih sempat melarikan diri. Dari luar, aku melihat manusia – manusia malang terbakar di dalam klub itu. Beberapa mobil polisi dan mobil pemadam kebarakaran tiba beberapa menit setelah aku berhasil kabur dari tempat itu.
 
                 Aku berlari sambil tertawa terbahak – bahak dan menembakkan pistolku ke semua orang yang melihatku. Mereka semua terkapar tak berdaya. Tapi di tengah jalan, ada beberapa orang anggota polisi yang mencegatku. Ku arahkan pistolku ke arah mereka. Tapi ternyata mereka punya lebih banyak pistol daripada aku. Aku menyerah. Ku angkat tanganku ke atas. Dan mereka mulai memborgol pergelangan tanganku. Sambil di seret – seret menuju ke mobil polisi, aku berucap pada dunia.
 
    “Tunggu aku ! Aku akan menghancurkan kalian semua ! tak akan ku biarkan kalian hidup ! haha…”
 …………………
    “Hahaha…. Kalian akan ku hancurkan ! akan ku cabik – cabik tubuh kalian ! hahaha….”tawa histeris Slamet alias Anto alias Anti itu membahana di seluruh koridor rumah sakit jiwa itu. Tampak kakinya di rantai ke kaki tempat tidurnya. Beberapa orang perawat berusaha menyuntikkan obat penenang kepadanya.
 
                 Di koridor rumah sakit itu, tampak seorang gadis berusia sekitar 25 tahun berjalan tergesa – gesa.
 
    “Dok, di mana tempat Slamet di rawat ?”Tanya gadis itu kepada seorang dokter yang terlihat terengah – engah karena mengikuti langkah sang gadis yang terburu – buru.
 
    “Tidak usah terburu – buru, mbak. Ini kita sudah sampai. Silahkan masuk.”ujar dokter itu mempersilahkan gadis itu untuk masuk ke ruangan berukuran kecil. Dengan tubuh bergetar, gadis itupun memasuki kamar itu. Sesampainya di dalam kamar itu, dia jatuh terduduk di lantai. Tak kuat lagi menyangga tubuhnya yang lemas. Miris dia melihat kekasihnya yang di rantai.
 
    “Slamet… slamet… sla… slamet ??”ujar gadis itu parau. Lelaki dengan rambut acak – acakan itupun menoleh. Bebarapa saat diam terpaku memandangi sosok gadis di hadapannya itu.
 
    “Eh… Diah ? Di… ah ? Diah ??”ujar lelaki itu
 
    “Iya, ini aku Diah. Kamu kenapa seperti ini, Met ?”
 
    “Diah ?”dengan langkah terseok – seok, di hampirinya gadis itu. Di pegangnya kedua pipi gadis itu. Setelah menyadari kenyataan bahwa kekasihnya datang menemuinya, Slametpun menangis.
 
    “Aku menunggu kamu di kampung. Aku percaya kamu bakal sukses di Jakarta. Tapi kenapa kamu… kenapa kamu… hiks”tak kuat lagi gadis itu menahan rasa kecewaannya. Di tatapnya wajah sang kekasih. Banyak perubahan yang terjadi di wajah yang sangat dirindukannya itu. Sorot matanya sayu. Wajahnya penuh baret luka. Urat – urat di wajahnya menonjol. Sangat mengerikan.
 
    “Aku memang sudah sukses, sayang. Lihatlah ! aku hebat kan sekarang ? kamu tahu ? aku sudah membunuh banyak orang. Aku makan daging mereka dan ku kubur mereka di belakang rumahku ! haha… aku hebat kan ? kau harus bangga padaku !”
 
 Tak ada lagi yang dapat di katakan gadis itu. Lelaki yang di pujanya, yang di nantikan kehadirannya, yang di pertahankannya, sekarang telah menjelma menjadi iblis yang menjijikkan.
Baca Terusannya »»